Kegiatan Santri di Pondok Pesantren Ali Maksum, Krapyak Yogyakarta
Selasa, 06 Februari 2018
DIALOG GUS DUR DAN SANTRI
Santri : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."
Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"
Gus Dur : "Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."
Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."
Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"
Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri : "Aneh."
Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."
Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"
Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri : "Kok dua-duanya?"
Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
Santri : "Ooh…"
Gus Dur : "Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"
Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri : "Masa sih, Gus?"
Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur : "Siapa? Ente?"
Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."
Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri : "Lho, kok begitu?"
Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"
Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."
Sabtu, 03 Februari 2018
PEMBAHASAN: SUNNAH RASULULLAH UNTUK KITA, PARA SUAMI
Sabtu, 17 Jumadil Awal 1439 H/ 03 Februari 2018 M
PEMBAHASAN:
SUNNAH RASULULLAH UNTUK KITA, PARA SUAMI:
1. Satu selimut bersama isteri. (HR. Tirmidzi 132)
2. Makan minum segelas berdua. (HR. Bukhari VI/293)
3. Mencium isteri sering-sering. (HR. Nasai)
4. Mandi bersama isteri. (HR. Nasai I/202)
5. Menyikat / menyisir rambut suami. (HR. Ahmad)
6. Membantu pekerjaan rumah tangga. (HR. Muslim)
7. Membelai isteri. (HR. Ahmad)
8. Tetap romantis walau isteri sedang haid. (HR. Bukhari 7945)
9. Menemani isteri yang sedang sakit. (HR. Muslim 2770)
10. Memberikan isteri hadiah. (HR. Ahmad)
11. Mengajak isteri ketika hendak keluar kota. (HR. Bukhari dan Muslim)
12. Mendinginkan kemarahan isteri dengan kemesraan. (HR. Ibnu Sunni)
13. Memanggil dengan kata-kata mesra. (HR. Muslim)
14. Suami isteri berjalan-jalan berduaan waktu malam. (HR. Muslim 2445)
15. Tidur dipangkuan isteri. (HR. Bukhari)
Subhanallah...
Beruntunglah suami yg sudah mangerjakan sedikit banyak dari sunnah di atas, karena dapat menguatkan jalinan cinta dan mewujudkan keluarga sakinah dan digelari oleh RASULULLAAH dengan sabdanya:
( خيركم خيركم لأهله )
صحيح ابن حبان / 4177
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap ahli keluarganya".
(HR. Ibnu Hibban : 4177
Diskusi Pak Kyai Santun dengan Pemuda Wahabi
Pemuda
Assalamu Alaikum, Kyai…
Pak Kyai
Waalaikum Salam...Silakan duduk anak muda, siapa namamu dan dari mana asalmu?
Pemuda
Terima kasih Pak Kyai. Nama saya toing dan saya berasal dari Kampung Seberang
Pak Kyai
Jauh kamu bertandang ke sini, sudah tentu kamu punya hajat yang sangat besar...Apa hajatnya, mana tahu mungkin saya boleh menolongmu?
Pemuda berjidat hitam tersebut diam sebentar, sambil menarik nafasnya dalam-dalam
Pemuda
Begini Pak Kyai, saya datang ke sini bertujuan ingin berbicara beberapa permasalahan dengan Pak Kyai...Pendeknya, permasalahan umat Islam sekarang
Pak Kyai
Permasalahan seperti apa itu anakku?
Pemuda
Saya ingin bertanya, mengapa Kyai-Kyai di kebanyakan pesantren & Majelis² di Indonesia, dan Tuan-Tuan Guru di Malaysia serta Pattani dan Asia umumnya sering kali mengajar murid-murid mereka dengan lebih suka mengambil kalam-kalam atau pandangan para ulama?!
Seringkali saya mendengar mereka akan menyebut; “Kata al-Imam al-Syafii, kata al-Imam Ibn Atho’illah al-Sakandari, Kata al-Imam Syaikhul Islam Zakaria al-Ansori dan lain-lain”
Mengapa tidak terus mengambil daripada al-Quran dan al-Sunnah? Bukankah lebih enak kalau kita mendengar seseorang tersebut menyebutkan Firman Allah taala di dalam al-Quran, Sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis itu dan ini?”
Bukankah Ulama-ulama itu juga punya kesalahan dan kekurangan. Maka mereka juga tidak lari daripada melakukan kesilapan. Maka sebaiknya kita mengambil daripada kalam al-Ma’sum yaitu al-Quran dan al-Sunnah
(Pak Kyai mendengar segala hujjah yang disampaikan oleh pemuda tersebut dengan penuh perhatian. Sedikit pun beliau tidak memotong malah memberikan peluang bagi pemuda tersebut berbicara sepuas-puasnya. Sambil senyuman terukir di bibir Pak Kyai, beliau bertanya kepada pemuda tersebut)
Pak Kyai
Masih ada lagi apa yang ingin kamu persoalkan wahai nak Toing?
Pemuda
Sementara ini, itu saja yang ingin saya sampaikan Pak Kyai!!
Pak Kyai
Sebelum berbicara lebih lanjut, eloknya kita minum dahulu ya... Tiga perkara yang sepatutnya disegerakan adalah hidangan kepada tetamu, wanita yang dilamar oleh orang yang baik maka disegerakan perkawinan mereka dan yang ketiga, si mati yang harus disegerakan urusan pengkebumiannya, Betul kan Toing?
Pemuda
Benar sekali Pak Kyai
(Pak Kiyai lalu memanggil isterinya bagi menyediakan minuman pada mereka berdua...Maka beberapa detik selepas itu, minuman pun sampai di hadapan mereka)
Pak Kyai
Silakan minum Toing
(Setelah dipersilahkan oleh Pak Kyai, maka Toing pun terus mengambil bekas air tersebut lalu menuangkan perlahan-lahan ke dalam cawan yang tersedia)
Pak Kyai terus bertanya
Toinh, kenapa kamu tidak minum dari tekonya saja?! Kenapa perlu dituang di dalam gelas?!
Pemuda
Pak Kyai, mana bisa saya minum langsung dari tekonya, Tekonya besar sekali...Makanya saya tuang ke dalam gelas agar memudahkan saya meminumnya
Pak Kyai
Toing, itulah jawaban terhadap apa yang kamu persoalkan tadi... Mengapa kita tidak mengambil langsung dari Al-Quran dan as-Sunnah?! Terlalu besar untuk kami lansung minum daripada kedua-nya...Maka kami mengambil apa yang telah dijelaskan di dalam gelas para ulama...Maka ini memudahkan bagi kami untuk mengambil dan memanfaatkannya!!
Benar kamu katakan bahwa mengapa tidak langsung saja mengambil daripada al-Quran dan al-Sunnah!! Cuma persoalan ini, kembali ingin saya lontarkan kepada kamu... Adakah kamu ingin mengatakan bahwa al-Imam al-Syafii dan para ulama yang kamu sebutkan tadi mengambil hukum selain dari Al-Quran dan Sunnah?! Adakah mereka mengambil daripada kitab Talmud atau Bible?
Pemuda
Sudah tentu mereka juga mengambil dari Al-Quran dan Sunnah
Pak Kyai
Kalau begitu, maka sumber pengambilan kita juga adalah Al-Quran dan Sunnah cuma dengan paham para ulama!!
Satu lagi gambaran yang ingin saya terangkan kepada kamu... Saya dan kamu membaca Al-Quran, al-Imam al-Syafii juga membaca Al-Quran bukan?
Pemuda
Sudah tentu Pak Kyai
Pak Kyai
Baik, kalau kita membaca sudah tentu kita sedikit memahami ayat-ayat di dalam Al-Quran tersebut bukan? Al-Imam al-Syafii juga memahami ayat yang kita bacakan... Maka persoalannya, pemahaman siapa yang ingin didahulukan? Pemahaman saya dan kamu atau pemahaman al-Imam al-Syafii terhadap ayat tersebut?
Pemuda
Sudah tentu pemahaman al-Imam al-Syafii karena beliau lebih memahami dibanding orang zaman sekarang
Pak Kyai
Nah, sekarang saya rasa kamu sudah jelas bukan? Hakikatnya kita semua mengambil daripada sumber yang satu yaitu al-Quran dan Sunnah Tiada seorang pun yang mengambil selain dari keduanya. Cuma bedanya, kita mengambil dari pemahaman al-Quran dan Sunnah tersebut dari siapa?
Sudah tentu kita akan mengambil dari orang yang lebih faham(jago) ilmunya. Ini kerana mereka lebih wara’ dan berjaga-jaga ketika mengeluarkan ilmu
Kamu tahu Toing, al-Imam al-Syafii pernah ditanya oleh seseorang ketika beliau sedang menaiki keledai, berapakah kaki keledai yang Imam tunggangi?
Maka al-Imam al-Syafii turun dari keledai tersebut dan menghitung kaki keledai tersebut. Selesai menghitung, barulah al-Imam menjawab: “Kaki keledai yang aku tunggangi ada empat”
Orang yang bertanya tersebut merasa heran lalu berkata
“Wahai Imam, bukankah kaki keledai itu memang empat, mengapa engkau tidak langsung menjawabnya?”
Al-Imam al-Syafii menjawab
“Aku bimbang, jika aku menjawabnya tanpa melihat terlebih dahulu, tiba-tiba Allah Ta’ala hilangkan salah satu kakinya maka aku sudah dikira tidak amanah di dalam memberikan jawaban”
Coba kamu perhatikan Toing, betapa wara’nya al-Imam al-Syafii ketika menjawab persoalan berkaitan dunia. Apalagi kalau berkaitan dengan agamanya?
*Al-Imam Malik pernah didatangi oleh seorang pemuda di dalam majlis taklimnya di Madinah al-Munawwarah* Pemuda tersebut mengatakan bahwa dia datang dari negeri yang jauhnya 6 bulan perjalanan ke Madinah. Pemuda itu datang untuk bertanya satu masalah yang ada di lokasinya
Al-Imam Malik, mengatakan bahwa
“Maaf, aku tidak pandai untuk menyelesaikannya”
Pemuda tersebut heran dengan jawaban Imam Malik, dan dia bertanya:
“Bagaimana aku akan menjawab nanti bilamana ditanya oleh penduduk tempatku?”
Maka kata al-Imam Malik:
“Katakan kepada mereka bahwa Malik juga tidak mengetahui bagaimana untuk menyelesaikannya”
Allah…Coba kamu lihat Toing, betapa amanahnya mereka dengan ilmu!! Berbeda dengan manusia zaman now/sekarang, yang baru seumuran jagung dalam ilmu, sudah menepuk dada mengaku bahwa seolah-olah mereka mengetahui segalanya
Pemuda
Masyaallah, terima kasih Pak Kyai atas penjelasan yang sangat memuaskan. Saya memohon maaf atas kekasaran dan keterlanjuran bicara saya
Pak Kyai
Sama-sama Nak...Semoga kamu akan menjadi seorang yang akan membawa panji agama kelak dengan ajaran yang benar dari Guru² mu yg bersanad Insyaallah
Assalamu Alaikum, Kyai…
Pak Kyai
Waalaikum Salam...Silakan duduk anak muda, siapa namamu dan dari mana asalmu?
Pemuda
Terima kasih Pak Kyai. Nama saya toing dan saya berasal dari Kampung Seberang
Pak Kyai
Jauh kamu bertandang ke sini, sudah tentu kamu punya hajat yang sangat besar...Apa hajatnya, mana tahu mungkin saya boleh menolongmu?
Pemuda berjidat hitam tersebut diam sebentar, sambil menarik nafasnya dalam-dalam
Pemuda
Begini Pak Kyai, saya datang ke sini bertujuan ingin berbicara beberapa permasalahan dengan Pak Kyai...Pendeknya, permasalahan umat Islam sekarang
Pak Kyai
Permasalahan seperti apa itu anakku?
Pemuda
Saya ingin bertanya, mengapa Kyai-Kyai di kebanyakan pesantren & Majelis² di Indonesia, dan Tuan-Tuan Guru di Malaysia serta Pattani dan Asia umumnya sering kali mengajar murid-murid mereka dengan lebih suka mengambil kalam-kalam atau pandangan para ulama?!
Seringkali saya mendengar mereka akan menyebut; “Kata al-Imam al-Syafii, kata al-Imam Ibn Atho’illah al-Sakandari, Kata al-Imam Syaikhul Islam Zakaria al-Ansori dan lain-lain”
Mengapa tidak terus mengambil daripada al-Quran dan al-Sunnah? Bukankah lebih enak kalau kita mendengar seseorang tersebut menyebutkan Firman Allah taala di dalam al-Quran, Sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis itu dan ini?”
Bukankah Ulama-ulama itu juga punya kesalahan dan kekurangan. Maka mereka juga tidak lari daripada melakukan kesilapan. Maka sebaiknya kita mengambil daripada kalam al-Ma’sum yaitu al-Quran dan al-Sunnah
(Pak Kyai mendengar segala hujjah yang disampaikan oleh pemuda tersebut dengan penuh perhatian. Sedikit pun beliau tidak memotong malah memberikan peluang bagi pemuda tersebut berbicara sepuas-puasnya. Sambil senyuman terukir di bibir Pak Kyai, beliau bertanya kepada pemuda tersebut)
Pak Kyai
Masih ada lagi apa yang ingin kamu persoalkan wahai nak Toing?
Pemuda
Sementara ini, itu saja yang ingin saya sampaikan Pak Kyai!!
Pak Kyai
Sebelum berbicara lebih lanjut, eloknya kita minum dahulu ya... Tiga perkara yang sepatutnya disegerakan adalah hidangan kepada tetamu, wanita yang dilamar oleh orang yang baik maka disegerakan perkawinan mereka dan yang ketiga, si mati yang harus disegerakan urusan pengkebumiannya, Betul kan Toing?
Pemuda
Benar sekali Pak Kyai
(Pak Kiyai lalu memanggil isterinya bagi menyediakan minuman pada mereka berdua...Maka beberapa detik selepas itu, minuman pun sampai di hadapan mereka)
Pak Kyai
Silakan minum Toing
(Setelah dipersilahkan oleh Pak Kyai, maka Toing pun terus mengambil bekas air tersebut lalu menuangkan perlahan-lahan ke dalam cawan yang tersedia)
Pak Kyai terus bertanya
Toinh, kenapa kamu tidak minum dari tekonya saja?! Kenapa perlu dituang di dalam gelas?!
Pemuda
Pak Kyai, mana bisa saya minum langsung dari tekonya, Tekonya besar sekali...Makanya saya tuang ke dalam gelas agar memudahkan saya meminumnya
Pak Kyai
Toing, itulah jawaban terhadap apa yang kamu persoalkan tadi... Mengapa kita tidak mengambil langsung dari Al-Quran dan as-Sunnah?! Terlalu besar untuk kami lansung minum daripada kedua-nya...Maka kami mengambil apa yang telah dijelaskan di dalam gelas para ulama...Maka ini memudahkan bagi kami untuk mengambil dan memanfaatkannya!!
Benar kamu katakan bahwa mengapa tidak langsung saja mengambil daripada al-Quran dan al-Sunnah!! Cuma persoalan ini, kembali ingin saya lontarkan kepada kamu... Adakah kamu ingin mengatakan bahwa al-Imam al-Syafii dan para ulama yang kamu sebutkan tadi mengambil hukum selain dari Al-Quran dan Sunnah?! Adakah mereka mengambil daripada kitab Talmud atau Bible?
Pemuda
Sudah tentu mereka juga mengambil dari Al-Quran dan Sunnah
Pak Kyai
Kalau begitu, maka sumber pengambilan kita juga adalah Al-Quran dan Sunnah cuma dengan paham para ulama!!
Satu lagi gambaran yang ingin saya terangkan kepada kamu... Saya dan kamu membaca Al-Quran, al-Imam al-Syafii juga membaca Al-Quran bukan?
Pemuda
Sudah tentu Pak Kyai
Pak Kyai
Baik, kalau kita membaca sudah tentu kita sedikit memahami ayat-ayat di dalam Al-Quran tersebut bukan? Al-Imam al-Syafii juga memahami ayat yang kita bacakan... Maka persoalannya, pemahaman siapa yang ingin didahulukan? Pemahaman saya dan kamu atau pemahaman al-Imam al-Syafii terhadap ayat tersebut?
Pemuda
Sudah tentu pemahaman al-Imam al-Syafii karena beliau lebih memahami dibanding orang zaman sekarang
Pak Kyai
Nah, sekarang saya rasa kamu sudah jelas bukan? Hakikatnya kita semua mengambil daripada sumber yang satu yaitu al-Quran dan Sunnah Tiada seorang pun yang mengambil selain dari keduanya. Cuma bedanya, kita mengambil dari pemahaman al-Quran dan Sunnah tersebut dari siapa?
Sudah tentu kita akan mengambil dari orang yang lebih faham(jago) ilmunya. Ini kerana mereka lebih wara’ dan berjaga-jaga ketika mengeluarkan ilmu
Kamu tahu Toing, al-Imam al-Syafii pernah ditanya oleh seseorang ketika beliau sedang menaiki keledai, berapakah kaki keledai yang Imam tunggangi?
Maka al-Imam al-Syafii turun dari keledai tersebut dan menghitung kaki keledai tersebut. Selesai menghitung, barulah al-Imam menjawab: “Kaki keledai yang aku tunggangi ada empat”
Orang yang bertanya tersebut merasa heran lalu berkata
“Wahai Imam, bukankah kaki keledai itu memang empat, mengapa engkau tidak langsung menjawabnya?”
Al-Imam al-Syafii menjawab
“Aku bimbang, jika aku menjawabnya tanpa melihat terlebih dahulu, tiba-tiba Allah Ta’ala hilangkan salah satu kakinya maka aku sudah dikira tidak amanah di dalam memberikan jawaban”
Coba kamu perhatikan Toing, betapa wara’nya al-Imam al-Syafii ketika menjawab persoalan berkaitan dunia. Apalagi kalau berkaitan dengan agamanya?
*Al-Imam Malik pernah didatangi oleh seorang pemuda di dalam majlis taklimnya di Madinah al-Munawwarah* Pemuda tersebut mengatakan bahwa dia datang dari negeri yang jauhnya 6 bulan perjalanan ke Madinah. Pemuda itu datang untuk bertanya satu masalah yang ada di lokasinya
Al-Imam Malik, mengatakan bahwa
“Maaf, aku tidak pandai untuk menyelesaikannya”
Pemuda tersebut heran dengan jawaban Imam Malik, dan dia bertanya:
“Bagaimana aku akan menjawab nanti bilamana ditanya oleh penduduk tempatku?”
Maka kata al-Imam Malik:
“Katakan kepada mereka bahwa Malik juga tidak mengetahui bagaimana untuk menyelesaikannya”
Allah…Coba kamu lihat Toing, betapa amanahnya mereka dengan ilmu!! Berbeda dengan manusia zaman now/sekarang, yang baru seumuran jagung dalam ilmu, sudah menepuk dada mengaku bahwa seolah-olah mereka mengetahui segalanya
Pemuda
Masyaallah, terima kasih Pak Kyai atas penjelasan yang sangat memuaskan. Saya memohon maaf atas kekasaran dan keterlanjuran bicara saya
Pak Kyai
Sama-sama Nak...Semoga kamu akan menjadi seorang yang akan membawa panji agama kelak dengan ajaran yang benar dari Guru² mu yg bersanad Insyaallah
Kamis, 01 Februari 2018
PELANTIKAN PENGURUS CABANG NAHDLATUL ULAMA KABUPATEN BANYUMAS MASA KHIDMAT 2018 -2023
Nomor : 207/A.II.04.d/01/2018
Tanggal : 3 Jumadil Awal 1439 H / 20 Januari 2018 M
SUSUNAN PENGURUS CABANG NAHDLATUL ULAMA KABUPATEN BANYUMAS MASA KHIDMAT 2018 - 2023
Mustasyar :
1. KH. Abdul Hamid Rusydi
2. DR. KH. Chariri Shofa, M.Ag.
3. KH. Zaenurrohman Al khafid
4. KH. Ahmad Shobri
5. KH. Nurul Huda
6. Habib Muhammad Al Habsy
7. Habib Ahmad Alatas
SYURIAH
Rois Syuriah : KH. Drs. Mughni Labib, M.S.I.
Wakil Rois : KH. Drs. Taefur Arafat, M.Pd.I.
Wakil Rois : KH. Drs. Hisyam Thontowi, M.Si
Wakil Rois : KH. Drs. Atabik Yusuf Zuhdi
Wakil Rois : KH. Nur Chafidz
Wakil Rois : KH. Mahfudz Sholeh
Katib : KH. Drs. Ansori, M.Ag.
Wakil Katib : KH. Drs. Akhsin Aedi Fanani, M.Ag.
Wakil Kayib : KH. Khotmil Kirom, S.Sos.I.
Wakil Katib : KH. Maulana A. Hasan, S.Pd.I.
Wakil Katib : KH. Ahmad Nadzir Ghozali
Wakil Katib : KH. Muhyidin Dawoed, Lc, M.Ag.
A'wan :
1. KH. Ahmad Dzuhroni
2. Kyai Thoifur Anwar
3. KH. Ahmad Muhail
4. DR. Ir. H. Achmad Iqbal, M.Si.
5. Prof. DR. Ir. Akhmad Shodiq, M.Sc.Agr
6. H. Abdullah Sutarno
7. KH. Zuhdi Azhari, SH
8. Kyai Slamet Subkhi
9. Kyai Muh. Rifqi Musthofa
TANFIDZIYAH
Ketua : H. Sabar Munanto, M.Pd.I.
Wakil Ketua : DR. H. Ahmad Luthfi Hamidi, M.Ag.
Wakil Ketua : Drs. H. Imam Hidayat, M.Pd.I.
Wakil Ketua : H. Suherman, SH
Wakil Ketua : Sudir, S.Ag. M.Si.
Wakil Ketua : KH. Abdul Rozak
Sekretaris : Muhammad Ridwan, S.Pd.I
Wakil Sekretaris : Amin Makhasin, S.Ag.
Wakil Sekretaris : Drs. H. Fuad Hasyim, M.Si
Wakil Sekretaris : Akhmad Thontowi, M.Pd.I.
Wakil Sekretaris : Drs. Mukhtarom, M.S.I.
Wakil Sekretaris : Muslih, S.Ip. M.Si.
Bendahara : H. Ansori Trisno Hartowo
Wakil Bendahara : H. Amin Nur Saad
Wakil Bendahara : Muhsin, S.Pd.I. M.Pd.
Wakil Bendahar : H. Amrin Ma'ruf, S.Sos. M.Si.
Langganan:
Postingan (Atom)
