Jumat, 13 April 2018

BERAPA UMURMU? - SUDAH 50 TAHUN?

BERAPA UMURMU?  -  SUDAH 50 TAHUN?

"Allah tidak lagi memberi alasan bagi siapa yang telah dipanjangkan umurnya hingga 50 tahun."
(Hadits Riwayat Bukhari)

Al-Khattabi berkata:
"Maknanya, orang yang Allah panjangkan umurnya hingga 50 tahun, tidak diterima lagi keuzuran/alasan, karena usia 50 tahun merupakan usia yang dekat dengan kematian.
Maka inilah kesempatan untuk memperbanyak taubat, beribadah dengan khusyuk, dan bersiap-siap bertemu Allah."
(Tafsir al-Qurthubi)

Fudhail bin Iyadh berkata kepada seseorang yang telah mencapai umur 50 tahun,

Nasihat Fudhail kepadanya:

"Berarti sudah 50 tahun kamu berjalan menuju Tuhanmu, sekarang hampir sampai... Lakukan yang terbaik pada sisa usia senja-mu, lalu akan diampuni dosa-dosamu yang lalu. Tapi jika engkau masih berbuat dosa di usia senjamu, kamu pasti dihukum akibat dosa masa lalu dan masa kini sekaligus..!"

Maka para alim ulama memberi nasehat cara menjalani umur yang sudah mencapai 50 tahun:

1. Jangan berlebihan berhias, bersolek, dan berpakaian.

2. Jangan berlebihan makan, minum, dan berbelanja barang yang kurang diperlukan untuk mendukung amal shalih.

3. Jangan berkawan dengan orang yang tidak menambah iman, ilmu, dan amal.

4. Jangan gelisah, berkeluh kesah dan kesal dengan kehidupan sehari-hari. Selalu penuhi diri dengan rasa sabar dan bersyukur.

5. Perbanyak do'a mengharap keridha-an Allah agar Husnul Khatimah dan dijauhkan dari Su'ul Khatimah.

6. Tambahkan ilmu agama, perbanyak mengingat kematian, dan bersiap menghadapinya.

7. Siapkan wasiat dan lakukan pembahagian harta.

8. Kerapkan menjalin silaturrahim dan merapatkan hubungan yang renggang sebelumnya.

9. Minta maaf dan berbuat baik terhadap pihak yang pernah didzalimi.

10. Tingkatkan amal shalih terutama amal jariah yang dapat terus memberi pahala dan syafa'at setelah kita mati.

11. Maafkan kesalahan orang kepada kita walau seberat apapun kesalahan itu.

12. Bereskan segala hutang yang ada dan jangan buat hutang baru walaupun untuk menolong orang lain.

13. Berhentilah dari semua maksiat !!!

mata, berhentilah memandang yang tidak halal bagimu.

tangan, berhentilah dari meraih yang bukan hak mu.

mulut, berhentilah makan yang tidak baik dan yang tidak halal bagimu, berhentilah dari ghibah, fitnah, dan berhentilah menyakiti hati orang lain.

telinga, berhentilah mendengar hal-hal haram dan tak bermanfaat.

14. Berbaik sangka lah kepada Allah atas segala sesuatu yang terjadi dan menimpa.

15. Penuhi terus hati dan lisan kita dengan istighfar & taubat untuk diri sendiri, orang tua, dan semua orang beriman, di setiap saat, waktu dan keadaan.

Semoga bermanfaat bagi kita semua, walaupun Anda belum 50 tahun, karena...

KEMATIAN TIDAK MENGENAL UMUR.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10211958936142093&id=1033128226

Salam untukmu Shohib Isro Mi'roj

Salam untukmu Shohib Isro Mi'roj

Assalaamu 'alaika
Kau hamba terbaik untuk anugerah agung ini.

Assalaamu 'alaika
tadi malam sekian tahun yang lalu dibedah jantung hatimu, disucikan lagi dan lagi,
diisi ilmu hikmah,
diluaskan dadamu untuk persiapan merekam apa yang akan Kau dengar dan lihat dalam perjalanan paling besar dalam sejarah umat manusia.

Assalaamu 'alaika
Kau yang diiringi malaikat Jibril dan Mikail

Assalaamu 'alaika
Kau yang naik buraq
kendaraan tercepat yang pernah ada.

Assalamu 'alaika
Kau yang diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, perjalanan dalam lorong waktu
melihat ulang semua peristiwa yang dialami para Rasul dan orang-orang shaleh sebelummu

Assalaamu 'alaika
Kau yang beshilaturahmi dengan 123999 Nabi sebelummu

Assalaamu 'alaika
Kau yang mi'roj dari langit ke langit
Dan seluruh malaikat dan Nabi penghuni langit bersholawat menyambut kedatanganmu,
Marhaban yaa waladiy sholih, sambutan Adam as
Marhaban yaa akhiy sholih., sambutan Idris, Yusuf, 'Isa, Yahya, Harun, Musa as
Marhaban yaa walady shoolih, sambut Ibrahim as.

Assalaamu 'alaika
Kau yang disambut seluruh malaikat di Baitul Makmur, Ka'bah langit.

Assalaamu 'alaika
Kau yang telah saksikan Pohon Sidrah Terjauh Terindah,

Assalaamu 'alaika
Kau yang telah melihat beragam siksa untuk ahli neraka dan beragam alasannya

Assalaamu 'alaika
Kau yang telah melihat beragam kenikmatan ahli syurga dengan beragam alasannya.

Assalaamu 'alaika
Kau yang akhirnya harus berjalan sendirian, tidak lagi diiringi Jibril karena kilauan cahayaNya akan membakar Jibril, dan Kau sendirian yang sanggup mengalaminya.

Assalaamu 'alaika
Kau yang telah berdialog dengan Tuhanmu
Attahiyyaatu lmubarokaatu shsholawaatu ththoyyibaatu lilLaah, salam hormatMu padaNya
Assalaamu 'alaika yaa ayyuha nNabiyyu wa rohmatiY wa barokaatiY, jawabNya
Assalaamu 'alainaa wa 'alaa 'ibaadi lLaahi shshoolihiin, jawabmu.
Asyhadu an laa ilaaha illaa Anta, lanjutmu,
Wa asyhadu annaka RosuuliY, jawabNya.

SholawatKu dan berkahKu untukmu dan keluargamu, lanjutNya

Seperti sholawatMu dan berkahMu untuk Ibrahim dan keluarganya, tawadlu'mu.

Fiy l'aalamiina innaKa Hamiidun Majiid,  pungkasmu.

Assalaamu 'alaika
Kau yang bawa oleh-oleh sholat untuk mi'roj kami.
Agar kami terus bertakbir memuji Keagungan dan KeindahanNya di setiap dzarrah ciptaanNya, di alam nyata dan di alam ghaib.

Assalaamu 'alaika
untukmu wahai rohmatan li l'aalamiin,

Assalamu 'alaika
Kau yang hingga kini terus mendapatkan sholawatNya dan sholawat seluruh malaikatnya dari segala penjuru alam semesta.

Assalaamu 'alaika
dari kami dari suatu tempat yang jauh dari maqammu

'Assalaamu 'alaika
dari kami yang ingin dengar, ingin lihat, ingin tahu apa yang telah Kau dengar, Kau lihat, dan Kau ketahui dari perjalanan besar ini.

Assalaamu 'alaika
dari kami yang merindukan terus bisa berdekat-dekat dengan Kau,
Yaa khoiro 'ibaadiHi,
Yaa Imaama nNabiyyiin,
Yaa Imaama lMursaliin.

Assalaamu 'alaika
min makaanin ba'iid.

 27 Rojab 1439H
alfaqir.

Khilafah

KILAPAH.

A: Ayo gabung mas dengan HTI, bersama berjuang untuk Islam.

B: Mba ini orang mana?

A: Mahasiswi sini mas.

B: Dulu mondok di mana?

A: Pendidikan saya normal mas.

B: Normal? Maksudnya? Ada pendidikan tidak normal?

A: Hehe... Maksudnya dari SD sampai SMA umum, mas.

B: Oh, tapi hafal Alfiyah Ibnu Malik?

A: Alfiyah itu apa ya mas?

B: Kitab Nahwu.

A: Nahwu itu bahasa Arab ya mas?

B: Ilmu tentang gramatikal bahasa Arab, begitu singkatnya. Belajar subjek, predikat, objek, dan lainnya.

A: Oh, belum pernah mas.

B: Oh, masih Jurumiyyah ya?

A: Itu apa lagi mas?

B: Innalillah, gini deh. Hafal Quran nggak?

A: Baru tahsin 1 mas, hehe... Maklum, baru mulai ngaji semester tiga kemarin.

B: Astaghfirullah... Terus itu teriak-teriak khilafah kenapa?

A: Kan bagian dari Islam mas. Harus kita perjuangkan.

B: Udah pernah baca kitab fiqh, kayak Minhaj, I'anah, Fathul Mu'in, atau Fathul Qarib aja deh. Pernah?

A: Belum mas, saya tidak bisa baca kitab kuning.

B: Lah itu tahu khilafah dari mana?

A: Dari murabbi saya mas.

B: Hebat, punya murabbi. Ikut thariqah?

A: Bukan mas, murabbi liqa'.

B: Murabbinya belajar dari siapa?

A: Nggak tahu juga mas, tapi biasanya sih ngasih refrensi materi dari situs-situs internet atau video di youtube.

B: Kamu ini teriak khilafah bukan dari kitab, bukan juga dari orang yang jelas sanadnya sampai ke Rasulullah SAW. Kamu teriak khilafah dari mana dasarnya?

A: Situs di Google dan video dari murabbi mas.

B: Astaga, Pantas.

A: Pantas kenapa, mas?

B: Mahasiswi yang baik akan bertindak dan berpikir ilmiah. Ambil sesuatu dari sumber aslinya. Kalau karya ilmiah aja harus pakai jurnal primer, agama juga begitu. Ambil dari kitab-kitab mu'tabar (primer) yang ditulis oleh ulama-ulama kredibel dan diakui dari zaman ke zaman sejak dahulu. Mempelajari sesuatu itu juga harus kepada ahlinya, ada bukti tertulis dia bersambung sanadnya sampai Rasulullah SAW. Kalau ilmu agama tidak disandarkan kepada Rasulullah SAW apalagi ambil dari Google dan Youtube malah bisa jadi santri Syeikh Abu Google bin Internety.

A: Tapi anu mas.... anu.... krik krik krik krik. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Dawuh Beliau Romo KH. M. Anwar Manshur Lirboyo, Saat Pengarahan Liburan Santri

Dawuh Beliau Romo KH. M. Anwar Manshur Lirboyo, Saat Pengarahan Liburan Santri

Sebaik-baiknya orang di dunia itu orang yang mau ngaji.

Kalian mau mengaji merupakan pilihannya Allah SWT maka dari itu kalian yang ngaji ini harus disyukuri dengan cara mempeng.

Ngaji itu harus benar-benar kangelan.

Orang yang baik di dunia itu ada dua, pertama orang yang mulang ngaji yang kedua orang yang mengaji.

Orang beribadah tidak memakai ilmu, ibadahnya tidak diterima.

Kalian adalah pilihane Allah karena kalian mau mengaji jangan berkecil hati, kalian harus mensyukuri itu, dengan cara mengamalkan ilmu yang telah kalian peroleh dan ditambahi ilmu-ilmu yang masih belum diperoleh.

Saat liburan yang masih sekolah disini, kalian di pondok saja menghafalkan pelajaran yang akan datang.

Supaya ringan, saat ramadlon kalian menghafalkan Imrithy, Alfiyyah atau maknun sampai khatam, nanti Syawal sudah enak tinggal nglalar saja tinggal ngaji sudah dapat hafalannya.

Disamping belajar pelajaran yang wajib di pondok, kalian juga pelajari ilmu kemasyarakatan, seperti mengimami tahlilan, berzanji, dibaiyyahan, belajar khotib, selagi masih di pondok.

Jika kalian memiliki ilmu yang cukup dimanapun berada kalian merasa enak, makannya yang mempeng selagi masih di pondok.

Kalian dipondok ada ngaji ada jamaah ada juga yang belajar kalau diluar godaannya macam-macam.

Gunakan kesempatan dipondok belajar macam- macam ilmu terutama situasi masyarakat, kalian pelajari.

Jangan pernah buat mainan di pondok itu daripada menyesal sendiri nantinya.

Terkadang tujuan kita mondok 15 tahun akan tetapi tiba-tiba baru 10 tahun harus pulang , kalau tidak mempeng tinggal menyesalnya saja dan menangis.

Jika dari pondok tidak bisa apa-apa nanti hanya bisa membingungkan orang saja. Namanya orang dari pondok pasti menjadi rujukan masyarakat, karena sudah dianggap belajar syari’at agama islam.

Kalian kalau pulang dari pondok akhlaknya dijaga, jangan pulang tidak memakai peci, celanaan, yang benar kalau pulang seperti di pondok memakai peci, tunjukkan bahwa kalian benar-benar santri, itu merupakan dakwah bil hal.

Dengan menunjukkan sikap dan akhlak yang baik maka masyarakat akan tertarik memondokkan anaknya di pesantren lirboyo.

Jangan sampai melakukan sesuatu yang membuat jelek nama pondok, kalian mondok harus menunjukkan akhlakul karimah, memakai celana boleh tapi yang benar juga pecinya jangan dislempitkan, tunjukkan kalian pondok pesantren, masyarakat biar mau memondokkan anaknya, dimanapun tunjukkan akhlak yang baik.

Jangan sombong, tawadluk itu tidak merasa, meskipun kamu pintar tidak merasa pintar, meskipun kamu alim tapi tidak merasa alim, menghargai orang lain.

Tawadluk itu bukan rendah akan tetapi kita merasa sama-sama tidak memiliki, sama-sama menghormati kepada orang lain.

Dimanapun tempatnya yang terpenting adalah akhlak, sepintar apaun jika tak berakhlak tidak ada harganya.

Mulai keluar dari pondok yang baik, do’a bepergian di baca karena di jalan banyak macam-macam kendaraan.

Sampai di rumah yang pertama dilakukan salaman kepada kedua orang tua, meminta maaf jika mengecewakan orang tuanya ketika di pondok.

Jika orang tua mengerjakan pekerjaan kalian minta, jangan hanya tidur saja itu tidak baik, orang tua sudah merawat kalian dari kandungan, kalian dibawa kemana-mana, kalian harus berangan-angan kalian tidak akan bisa membalas jasa mereka.

Orang tua merawat  anak itu dengan rohmah, merasa welas supaya anaknya bisa menjadi soleh solehah, kalian merawat orang tuanya ketika sakit selama 2 bulan saja pasti sudah merasa gak enak, makanya jangan sampai membantah orang tua.

Dawuhnya orang tua, kalian dengarkan jika kalian mampu laksanakan jika belum mampu kalian utarakan.

Dari pondok kalian salaman kepada orang tua berterima kasih atas biaya yang diberikan kepada kalian di pondok.

Kalian harus sadar, jangan mudah-mudah untuk meminta bekal, kalian sudah bukan kewajiban orang tua jika kalian tidak ngaji, kalian harus bersyukur telah dikirimi.

Birul walidain itu tidak membantah dan mengecewakan hati orang tua.

Yang sebelumnya mondok belum bertuturkata baik (boso kromo) kepada orang tua besok pulang harus bertutur kata baik (boso kromo).

Siapapun orang yang bisa birrul walidain hidupnya barokah.

Kalian di pondok di didik akhlakul karimah jadi kalian harus bisa menerapkan akhlakul karimah dimana saja.

Nanti ketika sudah waktunya berangkat pondok jangan telat, jika sudah waktunya segeralah berangkat ke pondok, kalian disiplin mengikuti peraturan itu sudah terlihat memulyakan para masyayikh dengan apa yang dikehendaki masyayikh.

Kalain berada di pondok itu biar kalian bisa menjadi orang baik, orang tua kalian ingin memiliki waladun solih solihah.

Di pondok yang sungguh-sungguh biar menjadi orang soleh menjadi orang yang bisa menjalani kebenaran.

[ Serambi Lirboyo ]

Selasa, 10 April 2018

MENEMPELKAN KAKI DENGAN KAKI SAAT SHOLAT BERJAMAAH ITU ADA HADITS NYA SHOHIH BUKHORI ???

﷽
___
MENEMPELKAN KAKI DENGAN KAKI SAAT SHOLAT BERJAMAAH ITU ADA HADITS NYA SHOHIH BUKHORI ???
.
Pernah mendengar hal semacam itu ?
‘Si dia’ dengan bangga menyampaikan bahwa apa yang ia lakukan
ada haditsnya, haditsnya shohih lagi, shohih bukhori bahkan.

 Komentar saya :
“Ayo membaca hadits yang komplit dan lihat penjelasan ulama”

Haditsnya memang betul shohih bukhori

Tapi, jika saya tanya :
• “Apakah menempelkan kaki dengan kaki temannya dilakukan oleh Nabi Muhammad ?”

• “Apakah hal tersebut diperintahkan oleh Nabi Muhammad ?”

• “Apakah hal tersebut dipraktekkan oleh Sahabat Utama ?”

 Maka jawabannya : TIDAK

(sengaja pake capslock, bukan marah, tapi biar jelas huehehee)

 Yuk kita simak hadits lengkapnya :

 “`Riwayat Anas bin Malik“`

ุญَุฏَّุซَู†َุง ุนَู…ْุฑُูˆ ุจْู†ُ ุฎَุงู„ِุฏٍ ู‚َุงู„َ: ุญَุฏَّุซَู†َุง ุฒُู‡َูŠْุฑٌ ุนَู†ْ ุญُู…َูŠْุฏٍ ุนَู†ْ ุฃَู†َุณِ ุจْู†ِ ู…َุงู„ِูƒٍ ุนَู†ِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู‚َุงู„َ: ุฃَู‚ِูŠู…ُูˆุง ุตُูُูˆูَูƒُู…ْ ูَุฅِู†ِّูŠ ุฃَุฑَุงูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ูˆَุฑَุงุกِ ุธَู‡ْุฑِูŠ ูˆَูƒَุงู†َ ุฃَุญَุฏُู†َุง ูŠُู„ْุฒِู‚ُ ู…َู†ْูƒِุจَู‡ُ ุจِู…َู†ْูƒِุจِ ุตَุงุญِุจِู‡ِ ูˆَู‚َุฏَู…َู‡ُ ุจِู‚َุฏَู…ِู‡ِ»

Mengabarkan kepada kami ‘Amr bin Kholid berkata, mengabarkan kepada kami Zuhair dari Humaid dari Anas bin Malik dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam: ” Tegakkanlah shaf kalian, karena saya melihat kalian dari belakang pundakku.” ada salah seorang diantara kami orang yang menempelkan bahunya dengan bahu temannya dan telapak kaki dengan telapak kakinya. _

(HR. Bukhari)

Riwayat anNu’man bin Basyir“`

ุญَุฏَّุซَู†َุง ูˆَูƒِูŠุนٌ, ุญَุฏَّุซَู†َุง ุฒَูƒَุฑِูŠَّุง, ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ุงู„ْู‚َุงุณِู…ِ ุงู„ْุฌَุฏَู„ِูŠِّ, ู‚َุงู„َ ุฃَุจِูŠ: ูˆุญَุฏَّุซَู†َุง ูŠَุฒِูŠุฏُ ุจْู†ُ ู‡َุงุฑُูˆู†َ, ุฃَุฎْุจَุฑَู†َุง ุฒَูƒَุฑِูŠَّุง, ุนَู†ْ ุญُุณَูŠْู†ِ ุจْู†ِ ุงู„ْุญَุงุฑِุซِ ุฃَุจِูŠ ุงู„ْู‚َุงุณِู…ِ, ุฃَู†َّู‡ُ ุณَู…ِุนَ ุงู„ู†ُّุนْู…َุงู†َ ุจْู†َ ุจَุดِูŠุฑٍ, ู‚َุงู„َ: ุฃَู‚ْุจَู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุจِูˆَุฌْู‡ِู‡ِ ุนَู„َู‰ ุงู„ู†َّุงุณِ, ูَู‚َุงู„َ: ” ุฃَู‚ِูŠู…ُูˆุง ุตُูُูˆูَูƒُู…ْ, ุซَู„َุงุซًุง ูˆَุงู„ู„ู‡ِ ู„َุชُู‚ِูŠู…ُู†َّ ุตُูُูˆูَูƒُู…ْ ุฃَูˆْ ู„َูŠُุฎَุงู„ِูَู†َّ ุงู„ู„ู‡ُ ุจَูŠْู†َ ู‚ُู„ُูˆุจِูƒُู…ْ ” ู‚َุงู„َ: ” ูَุฑَุฃَูŠْุชُ ุงู„ุฑَّุฌُู„َ ูŠُู„ْุฒِู‚ُ ูƒَุนْุจَู‡ُ ุจِูƒَุนْุจِ ุตَุงุญِุจِู‡ِ, ูˆَุฑُูƒْุจَุชَู‡ُ ุจِุฑُูƒْุจَุชِู‡ِ ูˆَู…َู†ْูƒِุจَู‡ُ ุจِู…َู†ْูƒِุจِู‡ِ

An-Nu’man bin Basyir berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam menghadap kepada manusia, lalu berkata : “Tegakkanlah shaf kalian!”, tiga kali. Demi Allah, tegakkanlah shaf kalian, atau Allah akan membuat perselisihan diantara hati kalian. Lalu an-Nu’man bin Basyir berkata: Saya melihat seorang laki-laki menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya, lutut dengan lutut dan bahu dengan bahu. _

(HR. Bukhori)

 Bagaimana sih perintah Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam ketika itu ?

Beliau bersabda :

ุฃَู‚ِูŠู…ُูˆุง ุตُูُูˆูَูƒُู…ْ

Tegakkanlah shof / barisan kalian
Jadi, beliau tidak memerintahkan untuk menempelkan kaki, tapi beliau memerintahkan untuk menegakkan shof dalam artian merapikan, meluruskan, dan merapatkan shof.

bukan memerintahkan untuk menempelkan kaki dengan kaki temannya ๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž

 Lalu, siapa yang menempelkan kaki ketika itu ? Berapa jumlahnya ?

Baca lagi hadits diatas
 “`Anas bin Malik“` mengatakan :

[ูˆَูƒَุงู†َ ุฃَุญَุฏُู†َุง]

salah satu diantara kami

Baca lagi hadits diatas
 “`anNu’man bin Basyir“` mengatakan :

[ุฑَุฃَูŠْุชُ ุงู„ุฑَّุฌُู„َ]

Saya melihat seorang laki-laki dari kami

 Jadi, dari sekian banyak sahabat yang ikut sholat berjamaah bersama dengan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, semua sholatnya wajar
Ada orang yang menempelkan kaki dengan kaki temannya dan jumlahnya hanya satu orang.

Sampai sini bisa dipahami ya
Bisa In syaa Allah
_____

Perbuatan satu orang sahabat, apalagi tidak ada yang mengenalnya,TIDAK BISA DIJADIKAN HUJJAH

 “`Al-Amidi (w. 631 H)“` salah seorang pakar Ushul Fiqih menyebutkan:

ูˆูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุฃูƒุซุฑูŠู† ุฃู† ุงู„ุธุงู‡ุฑ ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจูŠ ุฃู†ู‡ ุฅู†ู…ุง ุฃูˆุฑุฏ ุฐู„ูƒ ููŠ ู…ุนุฑุถ ุงู„ุงุญุชุฌุงุฌ ูˆุฅู†ู…ุง ูŠูƒูˆู† ุฐู„ูƒ ุญุฌุฉ ุฅู† ู„ูˆ ูƒุงู† ู…ุง ู†ู‚ู„ู‡ ู…ุณุชู†ุฏุง ุฅู„ู‰ ูุนู„ ุงู„ุฌู…ูŠุน ู„ุฃู† ูุนู„ ุงู„ุจุนุถ ู„ุง ูŠูƒูˆู† ุญุฌุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุจุนุถ ุงู„ุขุฎุฑ ูˆู„ุง ุนู„ู‰ ุบูŠุฑู‡ู…

Menurut madzhab kebanyakan ulama’, perbuatan sahabat dapat menjadi hujjah jika didasarkan pada perbuatan semua sahabat. Karena perbuatan sebagian tidak menjadi hujjah bagi sebagian yang lain, ataupun bagi orang lain. _

(Lihat :Al-Amidi; w. 631 H, Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, hal. 2/99)

 Jadi, kalau kita mau fair ingin mengamalkan perbuatan sahabat;

 mari kita Taraweh 20 rokaat, karena itu dilakukan oleh “`Sayyidina Umar bin Khottob“` dan disetujui semua sahabat,
 begitu juga Adzan Jumat 2x dilakukan dizaman “`Sayyidina Utsman bin Affan“`

*Kalau Menempelkan kaki dengan kaki lain nya
*

Hanya satu orang sahabat, dan tidak dikenal siapa dia, serta perbuatannya menyelisihi mayoritas sahabat.

 Mana buktinya bahwa sahabat yang lain tidak menempelkan kaki dengan kaki temannya ?

 Lihat bagaimana kata sang periwayat hadits, yaitu “`Anas bin Malik“`:

ูˆَุฒَุงุฏَ ู…َุนْู…َุฑٌ ูِูŠ ุฑِูˆَุงูŠَุชِู‡ِ ูˆَู„َูˆْ ูَุนَู„ْุชُ ุฐَู„ِูƒَ ุจِุฃَุญَุฏِู‡ِู…ُ ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ู„َู†َูَุฑَ ูƒَุฃَู†َّู‡ُ ุจุบู„ ุดู…ูˆุณ

Ma’mar menambahkan dalam riwayatnya dari Anas; jika saja hal itu (menempelkan kaki) saya lakukan dengan salah satu dari mereka saat ini, maka mereka akan lari sebagaimana keledai yang lepas. _

[Ibnu Hajar, Fathu al-Bari, hal. 2/211]

Kenapa bisa begitu

“Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H)“` menuliskan:

ุงู„ْู…ُุฑَุงุฏُ ุจِุฐَู„ِูƒَ ุงู„ْู…ُุจَุงู„َุบَุฉُ ูِูŠ ุชَุนْุฏِูŠู„ِ ุงู„ุตَّูِّ ูˆَุณَุฏِّ ุฎَู„َู„ِู‡ِ

(Yang dilakukan sahabat tersebut adalah) berlebih-lebihan dalam meluruskan shaf dan menutup celah.

[Ibnu Hajar, Fathu al-Bari, hal. 2/211]

 *Lalu, siapa yang pertama kali mengatakan bahwa menempelkan kaki dengan kaki itu adalah termasuk kesempurnaan sholat bahkan termasuk hal yang wajib ?

 Dia adalah “`Ustadz Nashiruddin al-Albani ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

ูˆู‚ุฏ ุฃู†ูƒุฑ ุจุนุถ ุงู„ูƒุงุชุจูŠู† ููŠ ุงู„ุนุตุฑ ุงู„ุญุงุถุฑ ู‡ุฐุง ุงู„ุฅู„ุฒุงู‚, ูˆุฒุนู… ุฃู†ู‡ ู‡ูŠุฆุฉ ุฒุงุฆุฏุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ูˆุงุฑุฏ, ููŠู‡ุง ุฅูŠุบุงู„ ููŠ ุชุทุจูŠู‚ ุงู„ุณู†ุฉ! ูˆุฒุนู… ุฃู† ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจุงู„ุฅู„ุฒุงู‚ ุงู„ุญุซ ุนู„ู‰ ุณุฏ ุงู„ุฎู„ู„ ู„ุง ุญู‚ูŠู‚ุฉ ุงู„ุฅู„ุฒุงู‚, ูˆู‡ุฐุง ุชุนุทูŠู„ ู„ู„ุฃุญูƒุงู… ุงู„ุนู…ู„ูŠุฉ, ูŠุดุจู‡ ุชู…ุงู…ุง ุชุนุทูŠู„ ุงู„ุตูุงุช ุงู„ุฅู„ู‡ูŠุฉ, ุจู„ ู‡ุฐุง ุฃุณูˆุฃ ู…ู†ู‡

Sebagian penulis zaman ini telah mengingkari adanya ilzaq (menempelkan mata kaki, lutut, bahu), hal ini bisa dikatakan menjauhkan dari menerapkan sunnah. Dia menyangka bahwa yang dimaksud dengan “ilzaq” adalah anjuran untuk merapatkan barisan saja, bukan benar-benar menempel. Hal tersebut merupakan ta’thil (pengingkaran) terhadap hukum-hukum yang bersifat alamiyyah, persis sebagaimana ta’thil (pengingkaran) dalam sifat Ilahiyyah. Bahkan lebih jelek dari itu.

(Al-Albani : Silsilat al-Ahadits as-Shahihah, hal. 6/77)

Jadi beliau menganggap bahwa orang yang mengatakan ilzaq adalah anjuran untuk merapatkan shof, bukan menempelkan kaki, adalah pendapat yang salah, karena bagi beliau ilzaq adalah menempelkan kaki, lutut, dan bahu.

 Pendapat Ustadz Al-Albani bertentangan dengan pendapat Ulama Salafi (wahabi, ) yang lain.*

 “Ustadz Muhammad bin Shalih al-Utsaimin“` berkata:

ุฃู† ูƒู„ ูˆุงุญุฏ ู…ู†ู‡ู… ูŠู„ุตู‚ ูƒุนุจู‡ ุจูƒุนุจ ุฌุงุฑู‡ ู„ุชุญู‚ู‚ ุงู„ู…ุญุงุฐุงุฉ ูˆุชุณูˆูŠุฉ ุงู„ุตู, ูู‡ูˆ ู„ูŠุณ ู…ู‚ุตูˆุฏุงً ู„ุฐุงุชู‡ ู„ูƒู†ู‡ ู…ู‚ุตูˆุฏ ู„ุบูŠุฑู‡ ูƒู…ุง ุฐูƒุฑ ุจุนุถ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู…, ูˆู„ู‡ุฐุง ุฅุฐุง ุชู…ุช ุงู„ุตููˆู ูˆู‚ุงู… ุงู„ู†ุงุณ ูŠู†ุจุบูŠ ู„ูƒู„ ูˆุงุญุฏ ุฃู† ูŠู„ุตู‚ ูƒุนุจู‡ ุจูƒุนุจ ุตุงุญุจู‡ ู„ุชุญู‚ู‚ ุงู„ู…ุณุงูˆุงุฉ, ูˆู„ูŠุณ ู…ุนู†ู‰ ุฐู„ูƒ ุฃู† ูŠู„ุงุฒู… ู‡ุฐุง ุงู„ุฅู„ุตุงู‚ ูˆูŠุจู‚ู‰ ู…ู„ุงุฒู…ุงً ู„ู‡ ููŠ ุฌู…ูŠุน ุงู„ุตู„ุงุฉ.

Setiap masing-masing jamaah hendaknya menempelkan mata kaki dengan jamaah sampingnya, agar shof benar-benar lurus. Tapi menempelkan mata kaki itu bukan tujuan intinya, tapi ada tujuan lain. Maka dari itu, jika telah sempurna shaf dan para jamaah telah berdiri, hendaklah jamaah itu menempelkan mata kaki dengan jamaah lain agar shafnya lurus. “Maksudnya bukan terus menerus menempel sampai selesai shalat.” _

(Lihat : Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; w. 1421 H, Fatawa Arkan al-Iman, hal. 1/ 311)

Ustadz Abu Bakar Zaid (w. 1429 H / 2007 M,“` adalah salah seorang ulama Saudi yang pernah menjadi Imam Masjid Nabawi, dan menjadi salah satu anggota Haiah Kibar Ulama Saudi) :

ูˆุฅِู„ุฒุงู‚ ุงู„ูƒุชู ุจุงู„ูƒุชู ููŠ ูƒู„ ู‚ูŠุงู…, ุชูƒู„ู ุธุงู‡ุฑ ูˆุฅِู„ุฒุงู‚ ุงู„ุฑูƒุจุฉ ุจุงู„ุฑูƒุจุฉ ู…ุณุชุญูŠู„ ูˆุฅِู„ุฒุงู‚ ุงู„ูƒุนุจ ุจุงู„ูƒุนุจ ููŠู‡ ู…ู† ุงู„ุชุนุฐุฑูˆุงู„ุชูƒู„ู ูˆุงู„ู…ุนุงู†ุงุฉ ูˆุงู„ุชุญูุฒ ูˆุงู„ุงุดุชุบุงู„ ุจู‡ ููŠ ูƒู„ ุฑูƒุนุฉ ู…ุง ู‡ูˆ ุจูŠِّู† ุธุงู‡ุฑ.

Menempelkan bahu dengan bahu di setiap berdiri adalah takalluf (memberat-beratkan) yang nyata. Menempelkan dengkul dengan dengkul adalah sesuatu yang mustahil, menempelkan mata kaki dengan mata kaki adalah hal yang sulit dilakukan. (La Jadida fi Ahkam as-Shalat hal. 13)

 “`Abu Bakar Zaid“` melanjutkan:

ูู‡ุฐุง ูَู‡ْู… ุงู„ุตุญุงุจูŠ – ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ – ููŠ ุงู„ุชุณูˆูŠุฉ: ุงู„ุงุณุชู‚ุงู…ุฉ, ูˆุณุฏ ุงู„ุฎู„ู„ ู„ุง ุงู„ุฅِู„ุฒุงู‚ ูˆุฅِู„ุตุงู‚ ุงู„ู…ู†ุงูƒุจ ูˆุงู„ูƒุนุงุจ. ูุธู‡ุฑ ุฃَู† ุงู„ู…ุฑุงุฏ: ุงู„ุญุซ ุนู„ู‰ ุณุฏ ุงู„ุฎู„ู„ ูˆุงุณุชู‚ุงู…ุฉ ุงู„ุตู ูˆุชุนุฏูŠู„ู‡ ู„ุง ุญู‚ูŠู‚ุฉ ุงู„ุฅِู„ุฒุงู‚ ูˆุงู„ุฅِู„ุตุงู‚

Inilah yang difahami para shahabat dalam taswiyah shaf: Istiqamah, menutup sela-sela Bukan menempelkan bahu dan mata kaki. Maka dari itu, maksud sebenarnya adalah anjuran untuk menutup sela-sela, istiqamah dalam shaf, bukan benar-benar menempelkan.

Bahkan pendapat Ustadz Al-Albani juga bertentangan dengan pendapat Madzhab Hambali

“`Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H)“` :

ุญุฏูŠุซ ุฃู†ุณ ู‡ุฐุง: ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ุชุณูˆูŠุฉ ุงู„ุตููˆู: ู…ุญุงุฐุงุฉ ุงู„ู…ู†ุงูƒุจ ูˆุงู„ุฃู‚ุฏุงู…

Hadits Anas ini menunjukkan bahwa yang dimaksud meluruskan shaf adalah lurusnya bahu dan telapak kaki. _

(Lihat: Ibnu Rajab al-Hanbali; w. 795 H, Fathu al-Bari, hal.6/ 282)._

 Bagaimana sebenarnya cara merapatkan shof yang sempurna ?

ูˆุชุนุชุจุฑ ุงู„ู…ุณุงูุฉ ููŠ ุนุฑุถ ุงู„ุตููˆู ุจู…ุง ูŠู‡ูŠุฃ ู„ู„ุตู„ุงุฉ ูˆู‡ูˆ ู…ุง ูŠุณุนู‡ู… ุนุงุฏุฉ ู…ุตุทููŠู† ู…ู† ุบูŠุฑ ุฅูุฑุงุท ููŠ ุงู„ุณุนุฉ ูˆุงู„ุถูŠู‚ ุงู‡ู€ ุฌู…ู„.ุงู„ูƒุชุงุจ : ุจุบูŠุฉ ุงู„ู…ุณุชุฑุดุฏูŠู† ุต 140

“Disebutkan bahwa ukuran lebar shof ketika hendak sholat yaitu yang umum dilakukan oleh seseorang, dengan tanpa berlebihan dalam lebar dan sempitnya.” _

(Bughyatul Mustarsyidin hal 140)_

Umpama-pun mau menempelkan, “tempelkanlah bagian yang terluar dari tubuh kita saat berdiri,”
mana itu ?
Ya kalau berdiri normal, kalau berdiri normal hlo ya,

 bagian terluar dari tubuh kita yaitu pundak atau bahu kita
sesuai sabda Nabi Muhammad saw :

ุฃَู‚ِูŠู…ُูˆุง ุงู„ุตُّูُูˆูَ ูˆَุญَุงุฐُูˆุง ุจَูŠْู†َ ุงู„ْู…َู†َุงูƒِุจِ ูˆَุณُุฏُّูˆุง ุงู„ْุฎَู„َู„َ ูˆَู„ِูŠู†ُูˆุง ุจِุฃَูŠْุฏِูŠ ุฅِุฎْูˆَุงู†ِูƒُู…ْ ูˆَู„َุง ุชَุฐَุฑُูˆุง ูُุฑُุฌَุงุชٍ ู„ِู„ุดَّูŠْุทَุงู†ِ

”Luruskan shof, rapatkan pundak, dan tutup celah, serta perlunak pundak kalian untuk saudaranya, dan jangan tinggalkan celah untuk setan.” _

(HR. Abu Daud no. 666)

perlunak pundak kalian untuk saudaranya”* maksutnya adalah hendaknya dia berusaha agar pundaknya tidak mengganggu orang lain.

Jadi, sekali lagi, ayo pahami hadits secara Cerdas

Salam Cerdas

Wallahu a’lam bis showab

.
.
.
๐Ÿ‘คallamah muhammad bin abdul Karim As Saman al madani ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡

๐Ÿ‘คAl faqir Sahabat Aswaja.