Jumat, 16 Februari 2018

Mohamed Salah. Pemain Liverpool asal Mesir yang selalu sujud syukur saat mencetak gol

Islam Kontekstual - Gus Nadir:
Berdakwah dengan Prestasi


Saat ini “da’i” paling populer di UK bukan ulama A atau Syekh B, tapi Mohamed Salah. Pemain Liverpool asal Mesir yang selalu sujud syukur saat mencetak gol. Saat ini dia top skorer bagi Liverpool. Fans bernyanyi riang: “kalau dia skor gol lagi, sayapun akan jadi Muslim”.

Ini liriknya:

If he's good enough for you, he's good enough for me, If he scores another few then I'll be muslim too

If he's good enough for you he's good enought for me then sitting in a mosque is where I wanna be.

Mo Salah La La La
Mo Salah La La La

Pesan moral:  ubahlah persepsi keliru tentang Islam dengan prestasi, bukan dengan ujaran kebencian. Bikin orang lain simpati, bukan malah anda sibuk memaki👍

Simak yuk video fans Liverpool bernyanyi riang yang saya posting ini 🙏

Tabik,

Nadirsyah Hosen

MENCINTAI DZURRIYAT RASULULLAH AKAN DI CINTAI RASULULLAH SHOLLALLAHU ALAIHI WA SALLAM & AHLUL BAIT NYA

MENCINTAI DZURRIYAT RASULULLAH AKAN DI CINTAI RASULULLAH SHOLLALLAHU ALAIHI WA SALLAM & AHLUL BAIT NYA"
اللهم صل وسلم عدد من احب النبى والصديق على سيدنا محمد افضل من يدعو الى الحق صلاة وسلاما ننال بهما حسن الرفيق وامان الطريق والفرج من كل شدة وضيق وعلى اله وصحبه ومن بالنبى تعلق

  Dikisahkan dizaman Al-Imam Al-Qutub Al-Habib 'Ali Bin Muhammad Bin Husein Al-Habsyi (shohibul Simtud Dhuror), beliau hendak akan berziarah ke makam Zambal (Tarim Hadromaut).

  Ketika beliau (Habib Al) berziarah, beliau melihat di makam tersebut telah kosong (ruh paraAuliya) yang biasa pada hadir setiap yang hendak akan berziarah.

  Beliau (Habib Ali) pun balik kerumah. Keesokan harinya beliau berziarah kembali, dan beliau bertemu dengan sayyidina Al-Faqihil Muqoddam, Muhammad Bin Ali Ba’alawi.

  Habib Ali bertanya kepadanya : "Wahai Faqih, kemana engkau, dan para auliya lainnya ketika kemarin aku berziarah? Engkau dan yang lainnya tidak ada".

  Dan Sayyidinal Faqih pun menjawab : "Ya Habib.. kemarin aku dan para wali yang lain, diperintah Rasulullah ﷺ untuk mensholati jenazah ditanah Jawa".

  Habib Ali pun bertanya kembali kepada Al-Faqih : "Ya Faqih.. Jenazah siapa yang engkau, dan waliyang lain mensholatinya ditanah jawa tersebut? Apakah beliau seorang habaib atau ahlul bait?".

  Al Faqih pun menjawab : "Bukan !!! Beliau bukan Habaib atau ahlu bait Rasulullah ﷺ. Beliau adalah seorang pedagang yang setiap berdagang membantu Habaib (dzuriyyah Rasul ﷺ) dengan membawakan dagangannya Habaib, dll. Dan dari situ Rasulullah ﷺ mencintainya, hingga aku & wali yang lain diperintahkan untuk mensholati jenazahnya".

اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم اجمعين

  Inilah yang disebut mencintai orang yang dicintai.

  Dengan kita mencintai para dzurriyah Rasulullah ﷺ, maka akan dicintai Rasulullah ﷺ. Dan yang pasti Rasulullah ﷺ itu dicintai ALLAH S.W.T.  fi dunia wal Akhiroh *

ﺃَﺣِﺒُّﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻟِﻤَﺎ ﻳَﻐْﺬُﻭﻛُﻢْ ﺑِﻪِ ﻣِﻦْ ﻧِﻌَﻤِﻪِ، ﻭَﺃَﺣِﺒُّﻮﻧِﻲ ﻟِﺤُﺐِّ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻭَﺃَﺣِﺒُّﻮﺍ ﺃَﻫْﻞَ ﺑَﻴْﺘِﻲ ﻟِﺤُﺒِّﻲ
Dari Ibnu Abbas ra. Nabi Muhammad shollallahu Alaihi wa Sallam. bersabda : “Ahibbuul-laaha limaa yaghduukum bihi min ni’amihi wa ahibbuunii lihubbil-laahi wa ahibbuu ahla baitii lihubbii.
Artinya : Cintailah Allah kerena nikmat-nikmat yang di anugerahkan-Nya, cintailah aku karena kecintaan kepada Allah dan cintailah Ahlul-baitku (keluargaku) karena kecintaamu kepadaku.”. (HR. At-Tirmidzi, At-Tabarani, Al-Hakim)

Dari Hasan bin Ali ra., Nabi Muhammad saww. bersabda : “Al-Zamuu mawaddatanaa ahlal-baiti fainnahu man laqiallaahu ta’aala wa huwa yawaddunaa dakholal-jannata bisyafaa’atinaa walladzii nafsii biyadihi laa yanfa’u ‘abdan ‘amalun ‘amilahu illa bima’rifati haqqonaa.
Artinya : Mantapkan (hatimu) atas kecintaan kepada kami Ahlul-Bait, Sebab barangsiapa menghadap Allah dengan mencintai kami pasti ia masuk surga dengan syafaat kami, Demi yang jiwaku ditangan-Nya, tidak akan berguna amal seseorang bagi dirinya kecuali ia mengetahui hak kami (atasnya).”. (HR. At-Tabarani) *

اللهم صل على سيدنا محمد عبدك ورسولك النبي الأمي وعلى آله وصحبه وسلم

Allaahumma Shalli 'alaa Sayyidina Muhammadin 'Abdika wa Rasuulikan Nabiyyil Ummiyyi wa 'alaa Aalihi wa Shahbihi wasallim*

"MASYA ALLAH" Semoga kita semua diberi Hidayah - Taufik - Inayah - Maghfiroh Oleh ALLAH S.W.T Serta diberi Sehat wal Afiat dohir. batin, dimudahkan semua urusan kita diluaskan pintu Rezeki Nya, diqabulkan doa & hajatNya. Serta Mendapat Ganjaran pahala, di dunia - di Alam Barzakh - dan diakhirat Saat Yaumil hisab, di Padang Mahsyaar" Serta Mendapatkan, Syafaat Khusus dari Paduka Yang Mulia Baginda Nabi Besar Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam* Amiin Amiin, Amiiin Alhamdulillahi Robbil Alamiiin

Kamis, 15 Februari 2018

BELAJAR DARI SEJARAH PARA PEMBERONTAK BERTOPENG AYAT

BELAJAR DARI SEJARAH PARA PEMBERONTAK BERTOPENG AYAT

NU Online | Sabtu, 15 Juli 2017 14:46

Al-Zastrouw Ngatawi

Penggunaan ayat suci sebagai topeng untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah, termasuk pemerintahan yang berbentuk khilafah Islamiyah, sudah terjadi sejak zaman khulafaur rasyidin. Seperti terlihat pada sejarah terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.


Tersebutlah nama Abdullah bin Saba', seorang oposan dan pemberontak yang terus melakukan provokasi pada ummat Islam unt melakukan makar dan melawan semua kebijakan khalifah Utsman. Prpvokasi dilakukan dengan menggunakan ayat-ayat Qur'an.


Seperti di catat oleh para ahli sejarah Islam, ketika khalifah Utsman mengeluarkan kebijakan membuat ladang khusus untuk unta-unta sedekah yang terlarang unt umum, para oposan ini menentang dengan menggunakan QS. Yunus 59 sebagai alat legitimasi.


Berlagak sebagai pembela Islam dan penegak ayat suci mereka mendatangi khalifah Utsman. Dengan suara lantang dan garang mereka berkata: "Engkau membuat tanah terlarang yang dibatasi. Apakah engkau telah mendapatkan izin dari Allah untuk melakukan hal ini? Engkau telah melakukan tindakan yang mengada ada terhadap hal yang tidak ditentukan Allah."


Dengan tenang Khalifah Utsman menjawab: "ayat tersebut diturunkan dalam konteks yang lain, bukan dalam masalah seperti ini. Umar bin Khatthab sudah melakukan hal ini sebelumnya. Dia membatasi tanah khusus untuk unta-unta zakat lalu aku menambahnya untuk unta sedekah yang semakin banyak".


Para oposan yang sudah terpenjara teks dan mabok kekuasaan ini tidak dapat menerima penjelasan yang diberikan oleh khalifah Utsman. Mereka terus mengobarkan permusuhan dan fitnah pada pemerintah yang sah dengan mengobral ayat-ayat Qur'an, meski pemerintahan sudah berbentuk khilafah. Fitnah dan provokasi ini berujung pada pembunuhan khalifah Utsman.


Hal yang sama juga terjadi pada khalifah Ali bin Abi Thalib. Beliau wafat di tangan Abdurrahman ibn Muljam. Seorang muslim yang digambarkan oleh sejarawan Islam, Adz-Dzahabi, sebagai sosok ahli ibadah, hafal dan ahli baca Qur'an, hingga mendapat julukan al-Muqri'.


Pemahaman keagamaan yang tekstual skripturalis telah menimbulkan sikap keras pada diri Ibn Muljam, sehingga menganggap sayyidina Ali sebagai orang kafir yang layak dibunuh karena tidak menjalankan hukum Islam.


Semangat membunuh Sayyidina Ali ini makin berkobar ketika dia bertemu seorang perempuan cantik yang juga berniat makar krn demdam pada khalifah Ali.


Perempuan cantik ini bernama Qathami binti Syijnah. Dia dendam pada sayyidina Ali karena suadaranya terbunuh dalam perang Nahrawan. Perempuan ini mau dinikahi Ibn Muljam dengan syarat dia harus membunuh sayyidina Ali.


Dengan semangat keislaman yang tekstual puritan dan didorong oleh semangat cinta yang membara, ibn Muljam semakin mantap niatnya "berjihad" membunuh sayyidina Ali yang dianggap kafir karena tidak menerapkan hukum Allah.


Pemahaman ibn Muljam ini berdasar pada ayat; "barangsiapa yang tidak menggunakan hukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah (qur'an/syari'at Islam), maka mereka itulah orang-orang kafir" (QS al-Maidah: 44).


Dalam kitab sejarah Islam disebutkan, saat membunuh Ali bin Abu Thalib ibn Muljam berkata: 'tidak ada hukum kecuali hukum Allah, hukum bukan milikmu dan orang-orangmu (wahai Ali). Kemudian dia mengutip QS Al-Baqarah, 207: "Dan diantara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridlaan Allah, dan Allah maha penyantun pada hambaNya".


Dengan mengutip ayat ini ibn Muljam merasa bahwa tindakannya membunuh sayyidina Ali merupakan pengorbanan diri untuk mendapat ridha Allah dan menjadi hamba yang disantuni Allah.


Tindakan ini menjadi cikal bakal tidak kekerasan yang dilakukan oleh kaum radikal intoleran. Mereka menggunakan ayat-ayat suci unt makar dan melakukan tindak kekerasan terhadap kelompok lain yang tidak sepaham. Tindakan ini terus berulang dalam sejarah Islam hingga saat ini.


Para ulama telah melakukan upaya membendung politisasi ayat yang melahirkan sikap intoleran dan destruktif ini. Mereka menyusun berbagai argumen dan pemahaman teologis yang juga bersumber dari al-Qur'an dan hadits untuk melawan tindakan kekerasan atas nama agama ini.


Paham keagamaan tekstual puritan yang radikal dan intoleran ini terus menggerogoti pemikiran dan kesadaran umat Islam. Seperti virus dan racun menggerogoti saya tahan tubuh.


Seperti halnya melawan virus dan racun dalam tubuh, maka untuk melawan pemahaman tekstual puritan yang intoleran dan penuh kekerasan diperlukan daya tahan diri yang kokoh melalui penanaman ideologi Islam yang rahmatan lil'alamin. Hal ini bisa dilakukan dengan cara mensosialir secara massif pemahaman keagamaan yang toleran, manusiawi dan penuh kedamaiaan.


Kedua, membangun keadaban kritis masyarakat terhadap penggunaan simbol, ritual dan ayat ayat suci dalam praktik politik melalui data-data sejarah. Sebagaimana disebutkan di atas secara historis ayat-ayat dan simbol agama sangat rentan dimanipulasi dan dijadikan topeng untuk memenuhi ambisi politik dan tindak kekerasan.


Ketiga, melakukan tindakan tegas terhadap upaya penyebaran virus dan racun kekerasan agama. Ini perlu dilakukan sedini mungkin, sebelum virus dan racun ini menyebar ke masyarakat sehingga sulit dikendalikan.


Dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural, tindakan deteksi dini dan memberangus virus ini merupakan keniscayaan. Karena virus radikal dan intoleran yang penuh dengan tindakan kekerasan ini tidak saja mengancam kebhinnekaan tetapi juga kemanusiaan. Tindakan tegas perlu dilakukan sebelum bangsa ini hancur terjebak konflik yang tidak terkendali.


Penulis adalah Dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta.
http://www.nu.or.id/post/read/79575/belajar-dari-sejarah-para-pemberontak-bertopeng-ayat