Senin, 29 Januari 2018

Peran dan Sejarah Perjuangan KH. Hasyim Asy’ari Dalam Menanamkan Nasionalisme Religius

Peran dan Sejarah Perjuangan KH. Hasyim Asy’ari Dalam Menanamkan Nasionalisme Religius

Ketika proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan tanggal 17 Agustus 1945, KH. Hasyim Asy’ari merupakan tokoh Islam pertama yang menyatakan bahwa NKRI syah secara Fiqh Islam. Sehingga pada tanggal 14 September 1945, KH. Hasyim Asyari mengumpulkan para ulama dalam rapat terbatas di pesantren Tebuireng demi membahas Fatwa Jihad yang menjadi dasar dari Resolusi Jihad yang berisi dukungan terhadap proklamasi dan wajib berjihad demi mempertahankannya.

Berkorelasi dengan pandangan KH. Hasyim Asy’ari tentang nasionalisme religius. Beliau berpijak kepada pandangan politik Ahlussunnah wal jama’ah dari Syekh Nawawi al-Bantani, bahwa Dar al-Islam yang dijajah non-muslim, tetap menjadi negara Islam jika syariat Islam masih dijalankan. Namun, jika umat Islam dihalang-halangi dalam menjalankan syariat Islam, maka wajib hukumnya untuk berjihad dan status negara yang dijajah tersebut menjadi Dar al-Harb.

Pandangan KH. Hasyim Asy’ari tentang nasionalisme religius sudah diamalkan jauh sebelum proklamasi dikumandangkan. Beliau tidak pernah tunduk kepada penjajah yang menghalangi syariat Islam. Termasuk kepada bangsa sendiri yang berkhianat dan menjadi kaki tangan penjajah.

Pada tahun 1899, KH. Hasyim Asy’ari mulai merintis pesantren Tebuireng di Jombang. Desa Tebuireng merupakan daerah hitam karena dihuni oleh para penjahat; perampok, penjudi, pencuri, dan preman. Berbagai ancaman dan kekerasan dari preman mengganggu santri dan kegiatan pesantren yang didukung polisi Belanda. Sehingga KH. Hasyim Asyari mengirimkan para santrinya untuk belajar pencak silat sampai ke Cirebon, Jawa Barat.

Pada tahun 1913 ketika polisi Belanda bersama preman memfitnah para santri di pesantren Tebuireng, KH. Hasyim Asy’ari menolak untuk menyerahkan diri. Akibatnya berujung kepada pembakaran pesantren. Namun, KH. Hasyim Asy’ari tidak gentar dan tidak pernah menyerah.

Usaha KH. Hasyim Asy’ari untuk meneguhkan Islam di negara jajahan Belanda pada tahun 1937, dibuktikan dengan ikut dalam organisasi Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Demi menentang Undang-Undang Perkawinan dari Belanda yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Akibat berbagai pertentangan tersebut, pemerintah Hindia Belanda melancarkan berbagai strategi lain termasuk memfitnah dan merayu. Pada tahun 1937, KH. Hasyim Asy’ari ditawari Bintang Kehormatan oleh Ratu Wilhemina berbentuk emas dan perak, namun beliau menolaknya.

Ketika penjajahan Jepang tahun 1942-1945. KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa haram hukumnya melakukan seikeirei (membungkuk ke arah Istana kaisar Jepang), juga menolak berbagai propaganda Jepang melalui lagu Kimigayo yang diajarkan di sekolah-sekolah. Akibatnya, KH. Hasyim Asy’ari ditangkap dan disiksa dalam penjara Jepang selama empat bulan. Namun, tidak menyurutkan tekadnya. Justru beliau menyiapkan strategi lain.

Pada tahun 1943, TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang merupakan cikal bakal TNI, masih memiliki kemampuan serba terbatas. Senjata-senjata yang digunakan hasil rampasan dari senjata Belanda, Inggris atau Jepang. Maka KH. Hasyim Asy’ari mengirim para santri-santrinya untuk berlatih militer dalam barisan PETA (Pembela Tanah Air) bentukan Jepang. Bahkan beliau mengkader putranya, Abdul Kholiq, untuk terlibat dalam pembentukan PETA di daerah Jombang. Sehingga pada tahun 1944, terbentuklah laskar Hizbullah (laskar santri) dan Sabilillah (laskar Kiai). Sehingga Jepang pun menyadari bahwa kekuatan para santri dan ulama tidak bisa diremehkan sehingga membentuk partai Islam Masyumi.

Hubungan KH. Hasyim Asy’ari dengan para santrinya juga bukan seperti guru dan murid, namun seperti satu keluarga besar. Beliau tidak mengekang para santrinya agar mengikuti jalan pemikirannya. Misalnya, ketika KH. Hasyim Asy’ari mengizinkan santri beliau H. Wahab Chasbullah ikut bergabung dalam forum Indische Studi Club yang dipimpin Dr. Sutomo.

Ketika Jepang membentuk tentara PETA (Pembela Tanah Air), beliau mengirim santri dan putranya, Abdul Kholiq untuk membentuk PETA di Jombang. Himahnya, lahirlah laskar Hizbullah dan Sabilillah. Sehingga pesantren Tebuireng di Jombang menjadi basis perjuangan laskar Hizbullah-Sabilillah demi memperjuangkan kemerdekaan NKRI.

Pendirian Nahdatul Ulama juga tidak terlepas dari kebutuhan akan organisasi Islam yang menyatukan pemikiran dan ikatan persaudaraan dan rasa kekeluargaan yang kuat di antara umat Islam. Awalnya KH. Hasyim Asy’ari khawatir nantinya NU menjadi sebab perpecahan umat dan tidak ingin jabatan apapun agar tidak menodai ibadahnya. Sehingga beliau mendapat petunjuk pendirian NU melalui ulama lain yaitu KH. Kholil Bangkalan yang mengutus santri beliau yang bernama KH. As’ad Syamsul Arifin untuk membawa tongkat dengan pesan surat Thahaa ayat 17-23 kemudian kedua kalinya membawa tasbih dan bacaan ya Jabbar ya Qohhar.

Hasyim Asy’ari sering berpesan. “Wahai ulama, jika engkau melihat orang lain berbuat kebajikan berdasarkan pendapat para imam atau taklid (mengikuti) meskipun pendapat tersebut tidak marjuh (beralasan) sedangkan engkau tidak setuju, jangan lantas mencaci maki mereka, tapi bimbinglah mereka dengan cara yang baik. Jika mereka tidak mau mengikutimu, jangan bertengkar dengan mereka. Sebab jika engkau bertengkar dengan sesama ulama, itu sama saja dengan membangun istana dengan menghancurkan kotanya.”

Kesimpulannya terdapat dari tulisan KH. Hasyim As’yari Al-Qannuun al-Asaasii li Jami’iyyat Nahdatul Ulama pada muktamar NU tahun 1930 yang menjelaskan ada tiga hal yang dibutuhkan demi mempersatukan umat yaitu:

1. Kemauan ingin bersatu
2. Saling Mengenal
3. Saling tenggang rasa, bersimpati dan toleransi

Sebagaimana pemikiran Aswaja. Mengutamakan kepentingan umat dengan memperkuat Ukhuwah Islamiyah di antara organisasi Islam sebagai saudara kandung, saudara seperguruan dan satu keluarga, yang tidak kaku, toleransi, dengan meniadakan fanatisme sempit dan menolak paham radikal dan ekstrem yang memecah belah bangsa, agama dan negara.

Perjuangan nasionalisme religius KH. Hasyim Asy’ari dalam menegakkan syariat Islam dan mempertahankan kemerdekaan di NKRI ditandai dengan Resolusi Jihad. Ketika Belanda dan sekutu mendarat di Surabaya demi merongrong kembali kedaulatan NKRI.

Fatwa Jihad yang dikeluarkan KH. Hasyim Asy’ari di pesantren Tebuireng pada tanggal 14 September 1945 menjadi dasar Resolusi Jihad tanggal 21-22 Oktober 1945 demi mempertahankan kedaulatan NKRI. Ada tiga poin penting dalam Resolusi Jihad yaitu :

1. Hukum membela negara demi melawan penjajah menjadi Fardlu ‘ain (Wajib) bagi umat muslim baik laki-laki ataupun perempuan dalam radius 90 kilometer.
2. Jihad melawan penjajah merupakan Jihad Fi Sabilillah. Para pejuang gugur akan mati syahid.
3. Bangsa sendiri yang berkhianat dan ikut memecah belah dan menjadi kaki tangan penjajah (mata-mata dan pengkhianat) wajib hukumnya dibunuh.

Setelah dikumandangkan Resolusi Jihad, maka bergeraklah laskar Sabilillah dan Hizbullah dari berbagai pelosok daerah di Jawa demi mempertahankan kota Surabaya yang dikuasai pasukan sekutu sehingga terjadi perang besar dalam sejarah Perang Dunia II pada 10 November 1945. Dari Jombang laskar Hizbullah dikomando Kiai Yusuf Hasyim, putra KH. Hasyim Asyari. Dari Pasuruan, datang laskar Hizbullah kompi II divisi timur yang dipimpin Kiai Sa’dullah dari Pondok Pesantren Sidogiri. Dari Kediri, komando datang dari KH. Mahrus Aly pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo.

Dari Jember, komando datang dari laskar Hizbullah pimpinan KH. Abdullah Shiddiq yang juga perintis laskar santri Sabilillah. Dari Lumajang, dikomando Kiai Faqih. Dari Mojokerto datang laskar Hizbullah pimpinan KH. Moenasir Ali, mantan TNI. Dari kota Malang, laskar Kiai Mukti Harun. Dari barat Kota Surabaya datang Kiai Bisri Mustofa, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang. Dari Jawa Barat, Cirebon, datang pasukan yang dipimpin Kiai Abbas Buntet. Dari Situbondo, komando datang dari  KHR. As’ad Syamsul Arifin, yang memimpin kompi II laskar Hizbullah Jawa Timur, pengasuh pondok pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo.

Resolusi Jihad merupakan kontribusi pemikiran dan perjuangan KH. Hasyim Asy’ari demi menegakkan syariat Islam dan mempertahankan kedaulatan NKRI. Karena peristiwa 10 November 1945 memiliki poin penting demi kemerdekaan Indonesia, yaitu :

1. Peristiwa 10 November menunjukkan bahwa rakyat Indonesia masih memiliki kekuatan tempur (militaire strijdkracht). Termasuk peran para santri dan Kiai dalam barisan Hizbullah dan Sabilillah yang bersatu demi kemerdekaan NKRI.
2. Peristiwa 10 November telah membuka mata dunia internasional termasuk PBB dalam mendukung kemerdekaan Indonesia. Sehingga menghasilkan beberapa perundingan menuju Indonesia merdeka.
3. Peristiwa 10 November membangkitkan semangat juang rakyat Indonesia di daerah-daerah lain dalam mempertahankan kedaulatan NKRI.

Dalam Muktamar NU ke-XVI tahun 1946 di Purwokerto, KH. Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa syariat Islam tidak akan dapat dijalankan dengan baik di negara yang terjajah.

Kesimpulan dari pandangan nasionalisme religus KH. Hasyim Asy’ari adalah :

1. Para santri dan para Kiai wajib terlibat dalam mempertahankan kedaulatan NKRI.
2. Peran pesantren sangat penting dalam membentengi bangsa dan negara dari paham dan gerakan radikal yang memecah belah kedaulatan NKRI.
3. Hukum berperang dalam Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin adalah bersifat defensif, tidak berperang jika tidak diperangi. Sebagaimana Rasulullah yang menerapkan Piagam Madinah.
4. Fatwa Resolusi Jihad bukan untuk memerangi kafir non muslim atau bangsa yang beragama lain. Namun, untuk memerangi penjajah dan kaki tangannya yang menghalangi syariat Islam dan memecah belah kedaulatan NKRI.

Sumber : harisantri.com

Rabu, 24 Januari 2018

HIBAH EBOOK BUKU AGAMA ISLAM GRATIS

HIBAH EBOOK BUKU AGAMA ISLAM GRATIS

DAFTAR BUKU

1. KH. Marzuki Mustamar, Al-Muqthatofat lil Ahlil Bidayat, Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCZncwcnJtUUltcWM/view

2. A. Zainul Hakim, Terjemah Risalah Ahlussunah wal Jama'ah (رسالة أهل السنة والجماعة للعلامة حضرة الشيخ محمّد هاشم اشعرى) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCZjdCS18yVGNMRDg/view

3. Habib Munzir al-Musawa, Kenalilah Akidahmu. Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCd3JPX0RjWVRfemc/view

4. Harry Yuniardi, Argumentasi Tarawih 20 Rakaat; Risalah Amaliah Kaum Nahdliyyin (Bandung; LTN NU Jawa Barat, 2017) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B6GRfv4J--Yuc1J6R1ZtNnRmZEE/view

5. Ustadz M. Idrus Ramli, Buku Pintar Berdebat dengan Wahhabi, (Jember; Bina ASWAJA, 2010) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B6GRfv4J--YuZ2M4QW1pMHdvWWc/view

6. Ustadz Ma'ruf Khozin, Mana Dalil Malam Nishfu Sya'ban?, (Jember, LTN Jawa Timur, 2017) Link Download: https://drive.google.com/open?id=0B6GRfv4J--YuZ3RPVlB1WGlrVHc

7. Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari, Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah, Terj. Ngabdurrohman al-Jawi (Jakarta: LTM-PBNU, 2011) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B6GRfv4J--YuSVpIMDQ4a01ubXM/view

8. Einar Martahan Sitompul, NU dan Pancasila, (Jakarta; CV. Muliasari, 1989) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCWnRqMlVfdmZ3TDA/view

9. A. Gaffar Karim, Metamorfosis NU dan Politisasi Islam di Indonesia, (Yogyakarta; LKiS Yogyakarta, 1995) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCWFo0ZE5VWVVqUjA/view

10.KH. MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 1994) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCY0EtbDRXZVFaR0k/view

11.Lathiful Khuluq, Kyai Haji Hasyim Asy'ari's; Religious Thought and Political Activities, (Montreal: McGill University, 1997) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCOFg2d3JmR203QjQ/view

12.Martin van Bruinessen, NU Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa Pencarian Wacana Baru, (Yogyakarta; LKiS Yogyakarta, 1994) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCc18zcmdva3h1d0U/view

13.M. Ali Haidar, Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia, (Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama, 1993) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCWFo0ZE5VWVVqUjA/view

14.KH. Abdul Muchith Muzadi, Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari di Mata Santri, (Jombang; Pustaka Tebu Ireng, 2010) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCdzhlemhETldOeDQ/view

15.LTN-NU, Amaliah NU dan Dalilnya, (Jakarta; LTN-NU, 2011) Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCLUlPdGxwSXl4eXM/view

16.Syaikh Thahir bin Shalih al-Jaza'iri, Terjemah Jawahirul Kalamiyyah. Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B6GRfv4J--YuZE1iS2RrYWhrdGc/view

17.A. Shihabuddin, Telaah Kritis atas Doktrin Faham Salafi Wahabi, Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B6GRfv4J--YuOHh6X19SclFaUlE/view

18.Habib Ali bin Muhammad al-Habsy, Maulid Simthud Duror, Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCS05EdG1fTjJyZGM/view

19.Imam Ja'far Ibn Hasan al-Barzanji, Maulid Barzanji Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCMUFoLV94NmhVLTQ/view

20.Imam Abdurrahman al-dibaa'i, Maulid Ad-Dibaa'i, Link Download: https://drive.google.com/file/d/0B49krkb9SjaCVktCNEJTbWVNek0/view

Semoga bermanfaat, menebar manfaat mendobrak keterbatasan literasi

Senin, 22 Januari 2018

Materi RAKERNAS 2018 Dirjen DIKTI ,Pejabat Negara,KPK dan Perg Tinggi

Materi RAKERNAS 2018

01. Materi Paparan Advisor to the President of IsDB on STI
🌍 https://goo.gl/WXtEgH

02. Materi Paparan National Taiwan University of Science and Technology
🌎 https://goo.gl/45KNBo

03. Materi Paparan Cyber Hankuk University of Foreign Studies (CUFS)
🌎 https://goo.gl/apWmSy

04. Materi Paparan Founder and CEO Ruangguru
🌎 https://goo.gl/sLU6L6

05. Materi Paparan Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta
🌎 https://goo.gl/sr8yRR

06. Materi Paparan Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti
🌎 https://goo.gl/2PagAw

07. Materi Paparan Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan
🌎 https://goo.gl/TQQfui

08. Materi Paparan Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti
🌎 https://goo.gl/E9opkC

09. Materi Paparan Rektor Universitas Terbuka
🌎 https://goo.gl/hGDjpD

10. Materi Paparan Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan
🌎 https://goo.gl/e3yj1k

11. Materi Paparan Direktur Jenderal Penguatan Inovasi
🌎 https://goo.gl/zoHhB3

12. Materi Paparan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)
🌎 https://goo.gl/nhxyYT

13. Materi Paparan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
🌎 https://goo.gl/TN1kZ9

14. Materi Paparan Sekretaris Jenderal Kementerian Ristekdikti
🌎 https://goo.gl/18u5ja

15. Materi Paparan Inspektur Jenderal Kementerian Ristekdikti
🌎 https://goo.gl/4vLrhs

16. Materi Paparan Ketua KPK
🌎 https://goo.gl/PpxQzd

17. Materi Paparan Rekomendasi Rakernas 2018
🌎 https://goo.gl/udaa9q

AL QURAN & UMUR dari Abdul Malik bin Umair:

AL QURAN & UMUR

Berkata Abdul Malik bin Umair:

"Satu-satunya manusia yang tidak tua adalah orang yang selalu membaca Al-Quran".

"Manusia yang paling jernih akalnya adalah para pembaca Al-Quran".

Berkata Al-imam Qurtubi :
"Barang siapa yang membaca Al-Quran,  maka Allah akan menjadikan ingatannya segar meskipun umurnya telah mencapai 100 tahun".

Imam besar Ibrahim al-Maqdisi memberikan wasiat pada muridnya Abbas bin Abdi Daim Rahimahullah.

"Perbanyaklah membaca Al-Quran jangan pernah kau tinggalkan, kerana sesungguhnya setiap yang kamu inginkan akan di mudahkan setara dengan yang kamu baca".

Berkata Ibnu Solah :

"Bahawasannya para Malaikat tidak diberi keutama'an untuk membaca Al-Quran,  maka oleh kerana itu para Malaikat bersemangat untuk selalu mendengar saja dari bacaan manusia".

Berkata Abu Zanad :

"Di tengah malam,  aku keluar menuju masjid Rasulullah SAW sungguh tidak ada satu rumahpun yang aku lewati melainkan padanya ada yang membaca Al-Quran".

Berkata sebagian ahli tafsir :

"Manakala kita menyibukkan diri dengan Al-Quran maka kita akan dibanjiri oleh sejuta keberkahan dan kebaikan di dunia".

"Kami memohon kepada Allah agar memberikan taufiqnya kepada Kami dan semua yang membaca tulisan ini untuk selalu membaca Al-Quran dan mengamalkan kandungannya".

Bila anda Cinta pada Al-Quran maka sebarkanlah. Demi Allah, sekian banyak orang yang membaca Al-Quran maka pahala akan mengalir pada anda.

Umur kita terlalu singkat
... hingga ALLAH kurniakan  Lailatul Qadar untuk menambah umur amal.

Umur kita terlalu singkat
... ALLAH pinta bersilaturrahim untuk memanjangkannya.

Umur kita terlalu singkat
... ALLAH kurniakan Puasa Enam hari di bulan Syawal seperti berpuasa setahun.

Umur kita terlalu singkat
... ALLAH kurniakan baca Surah Al-Ikhlas seperti membaca sepertiga Al-Quran.

Umur kita terlalu singkat
... ALLAH kurniakan Solat di Masjidil Haram seperti solat 100 ribu lebih di masjid lain.

Umur kita terlalu singkat
... ALLAH kurniakan Solat berjemaah nilainya 27x lebih daripada solat sendirian.
Umur kita terlalu singkat
...ALLAH kurniakan *Solat
sunat sebelum subuh kekayaan akhirat seluas langit dan bumi*
Umur kita terlalu singkat
...ALLAH kurniakan solat subuh berjemaah seperti solat sepanjang malam*
Umur kita terlalu singkat
... ALLAH kurniakan solat isyak berjemaah seperti solat separuh malam dan bebas dari sifat munafik*
Hidup ini terlalu singkat
... ALLAH kurniakan satu huruf bacaan Al-Quran dengan 10 pahala/kebaikan.

Minggu, 21 Januari 2018

MEMANAH DAN BERENANG DI ERA MILENIAL Al-Zastrouw

Muhasabah Kebangsaan

MEMANAH DAN BERENANG DI ERA MILENIAL
Al-Zastrouw

Dalam salah satu hadits shoheh yg diriwayatkan imam Bukhari dan Muslim Nabi pernah besabda: "ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah"

Ada sebagian orang yg saat ini melatih anaknya memanah dan berenang sebagai  bentuk pengamalan dari perintah Nabi tersebut. Ini bukanlah hal yg salah karena bunyi teks tersebut memang demikian. Tapi apakah ini tepat kalo dikaitkan dengan konteks kekinian, era milenial? Ini persoalan yg perlu pemikiran lebih lanjut.

Untuk bisa melaksanakan perintah Nabi secara kontekstual, perlu pemahaman terhadap  konteks munculnya perintah, atau mengkaitkannya dengan hadits lain yg relevan. Karena dari sini akan terlihat maksud dan tujuan di balik perintah tersebut.

Hadits lain yg terkait dengan perintah ini adalah sabda Nabi yang diucapkan dari atas mimbar: "Persiapkanlah semua kekuatan yg kalian miliki. Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu memanah, ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu memanah" (HR. Muslim). Hadits yg lain dari Ibn Umar, Nabi bersabda: "ajarilah anak2 lelakimu berenang dan memanah, dan ajari menggunakan alat pemintal unt wanita" (HR. Baihaqy)

Dari sini dapat dilihat bahwa konteks perintah tersebut adalah membangun kekuatan berperang melalui penguasaan tehnik dan skill yg tinggi terhadap persenjataan dan peralatan perang. Pada zaman itu panah adalah senjatan andalan dalam pertempuran, kuda adalah peralatan perang yg paling utama dan renang adalah skill yg sangat dibutuhkan dalam perang fisik. Sedangkan penguasaan tehnik produksi tekstil dibutuhkan dalam perang ekonomi dan kebudayaan.

Pendeknya perintah tsb merupakan antisipasi Nabi atas terjadinya perang fisik maupun ekonomi budaya. Dalam peperangan tersebut diperlukan kekuatan melalui  kemampuan menggunakan senjata dan peralatan perang dengan skill tinggi. Baik senjata fisik (panah, berkuda dan berenang) maupun senjata ekonomi dan budaya (alat produksi).

Ketika persenjataan dan peralatan perang makin cangging, hadits ini akan kehilangan makna dan fungsi jika hanya dipahami secara tekstual. Kepandaian memanah dan berenang serta ketrampilan menunggang kuda tdk ada artinya ketika berhadapan dengan senjata cangging modern; AK-47, M16, M1 Garand, Staeyr AUG. Di laut ada  kapal selam Kilo, kapal selam Delta yg memiliki 16 pelontar rudal balistik SS-N-18 Stingray dan berbagai jenis kapal Induk yg menguasai lautan. Belum lagi di darat dan udara ada Mirage, MiG, Lockheed Martin F-22 Raptor Air Superiority Fighter, tank, amphiby dsb. Semua senjata ini tdk bisa dihadapi hanya dengan ketrampilan memanah, berenang dan berkuda.

Jelas di sini perlu takwil dan tafsir baru terhadap hadits di atas agar tetap relevan dan sesuai dengan missi dan tujuan dari perintah yg ada di balik teks hadits tersebut. Jika hadits tersebut dipahami dan diamalkan secara tekstual makan yg terjadi bukan mempersiapkan  kekuatan perang yg kuat, tetapi justru mencetak atlit yg yg tangguh karena ketiga ketrampilan tersebut sekarang hanya jd cabang olah raga bukan ketrampilan yg bisa meningkatkan kemampuan tempur modern.

Dalam perang fisik yg mengandalkan senjata canggih, hadits tersebut harus dipahami bahwa anak2 kita harus dilatih mengenal dan memahami ilmu pengetahuan agar bisa menggunakan senjata dan peralatan perang modern yg bertehnologi canggih.

Sebaliknya, dlm perang kebudayaan dan ekonomi yg dikenal dengan istilah Proxy War, persenjataan perang tdk lagi berupa alat pembunuh seperti disebutkan di atas. Pd perang jenis ini senjata yang diperlukan adalah kecanggihan tehnologi informasi (TI)  dan kemampuan membuat konten yg mampu mempengaruhi cara pandang, pola pikir dan gaya hidup masyarakat. Ini artinya, dalam perang kebudayaan dan ekonomi yg dioerlukan adalah kemampuan dan ketrampikan memanfaatkan TI.

Perang kebudayaan yg menggunakan kecanggihan TI ini sdh terjadi di Indonesia dan masuk di kalangan generasi milenial. Hal ini bisa dilihat dari data pengguna medsos di Indonesia, terutama FB, usia 13-29 th yg memcapai angka 61 juta user.  Sedangkan jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2016 mencapai 132,7 juta, setara dengan 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia.

Perang jenis ini jelas tidak memerlukan ketrampilan memanah, berenang dan berkuda. Ketajaman anak panah sudah digantikan oleh ketajaman kata yg bisa  mempengaruhi pemikiran dan gaya hidup masyarakat. Busur untuk melepaskan anak panah digantikan oleh peralatan TI yg bisa melepaskan berbagai issu unt menggerakkan opini publik; smart phone, gatget, laltop dsb. Dalam proxy war ini juga tdk diperlukan lagi kuda dan lautan tempat berenang karena perang jenis ini sudah melampaui ruang dan waktu.

Di kalangan generasi.milenial, memanah harus ditakwil dengan kemampuan menggunakan IT dan membuat konten yg bisa mempengaruhi  kesadaran dan pemikiran masyarakat sehingga bisa menggerakkan mereka sesuai kemauan sang "pemanah". Sedangkan latihan berenang harus dipahami dengan kemampuan literasi media yaitu kemampuan mensikapi informasi secara kritis.

Generasi milenial tidak lagi berenang di air atau gelombang laut, tetapi berenang dalam gelombang dan arus informasi. Jk mereka tidak memiliki ketrampilan  berenang tingkat tinggi (kemampuan literasi media yg canggih) maka akan tenggelam dan hanyut oleh arus informasi. Demikian sebaliknya, mereka yg memiliki ketramlilan literasi media akan bisa berenang, surving dan menyelam dengan baik di tengah pusaran arus informasi yg dahsyat tanpa takut hanyut atau tenggelam. Sedangkan berkuda di era melenial adalah ketrampilan menguasai dan mengendalikan TI.

Di tengah maraknya hoax, fitnah, ujaran kebencian dan caci maki, maka diperlukan generasi tangguh yg bisa melesakkan anak panah unt menebar kebaikan dan perdamaian. Generasi milenial perlu kemampuan yg bisa berburu berita hoax, memblokir conten fitnah yg merusak dan mengejar para penyebar kebencian yg merusak peradaban dan mengancam kemanusiaan, sebagaimana layaknya penunggang kuda berburu musuh.

Inilah takwil kemampuan memanah, berenang dan berkuda yg harus dukuasai oleh generasi milenial. Dg ketrampilan ini missi kebaikan agama akan bisa dipertahankan. Karena tak ada cara terbaik mempertahankan agama melebihi upaya mewujudkan kebaikan, kedamaian dan keadilan untuk semua manusia. *