Jumat, 15 September 2017

Bersholawat bersama, Habib Syeh Bin Abdul Qodir As Segaf di Peresmian UNU


Hari ini Jum'at pukul 08 tgl 15-09-2017, Dalam Rangka Pembukaan UNU Purwokerto tahun Akademik 2017/2018, Ribuan Nahdziyyin hadir di halaman UNU Purwokerto. (Sebelah Selatan Kantor PCNU Banyumas) Bersholawat bersama Hb Syeh Bin Abdul Qodir As Segaf. Semoga UNU Purwokerto semakin Jaya di Bumi Nusantara.

Anggota Dewan sowan Kyai

Anggota Dewan sowan Kyai

Suatu saat rombongan wakil rakyat di Senayan sowan kepada salah satu Kyai khos yang bijaksana dan kharismatik.

Wakil Rakyat/WR  :  Pak Kyai, terus terang akhir-2  ini kami menjadi galau.

Pak Kyai/PK  :  Ada masalah apa, bapak-bapak yang terhormat  ?  

WR  :  Setiap ada konflik dengan KPK, masyarakat selalu sinis dengan anggota DPR. Belum jelas persoalannya, mereka cenderung menyalahkan para wakil rakyat. Sebenarnya antara kami dengan KPK itu hebat siapa  ? 

Sambil tersenyum Pak Kyai menjawab  :  Ya jelas hebat panjenengan.  Apakah mungkin mereka bisa menjadi pimpinan KPK jika wakil rakyat tidak memberikan persetujuan  ? 

Wajah para anggota DPR kelihatan sumringah.  Mereka melanjutkan bertanya  :  Kalau dengan presiden, hebat siapa  ? 

PK  :  Ya sudah jelas hebat panjenengan. Apakah mungkin Pak Jokowi bisa menjadi RI-1 kalau bukan fraksi Bapak yang mengusulkan sebagai calon presiden  ?

Para wakil rakyat semuanya tersenyum lebar.
WK  :  Satu pertanyaan lagi Pak Kyai.  Jika dibandingkan dengan Nabi, masih hebat siapa  ?

Pak Kyai terkejut karena tidak menyangka pertanyaannya sejauh itu.  Sambil beristighafar, beberapa menit kemudian beliau menjawab  :  Dibandingkan dengan Nabi, panjenengan tetap lebih hebat,  👍.

Para wakil rakyat yang mulia terheran-heran.  Secara serentak mereka bertanya  :  Bagaimana mungkin kami ini lebih hebat dari pada Nabi  ?

Sambil tersenyum Pak Kyai menjelaskan  :  Bapak-bapak yang saya hormati, panjenengan semua ini jelas lebih hebat dari pada para Nabi.  Semua Nabi itu takut kepada Gusti Allah, lhaa.. panjenengan gak wêdhi Blaass...!!

Rabu, 13 September 2017

Kisah Gus Dur

TANPA didampingi siapa pun, Gus Dur dan aku bertemu di warung nasi depan kampusku. Pakaian batik dan sarung membungkus tubuhnya, peci yang miring serta kacamata tebalnya melengkapi kediriannya. Dialog yang bagiku aneh pun terjadi. Aneh karena perbincangan kami kesana kemari, tak jelas arahnya.

Gus Dur :
“Sebenar apa pun tingkahmu, sebaik apapun prilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.!”

Mughni :
“Iya, Gus. Tapi..”

Gus Dur :
“Bagaimana tidak repot, hidupmu terlalu banyak ‘tapi’.!”

Mughni :
“Hehehehe..”

Gus Dur :
“Apa kamu kenal Wa Totoh? Maksud saya KH. Totoh Ghozali.”

Mughni :
“Disebut kenal ya tidak, tapi saya sering mendengar ceramah-ceramahnya di Radio.”

Gus Dur :
“Belajarlah kamu kepadanya, bagaimana memurnikan tauhid masyarakat. Dia menggunakan bahasa lokal sebagai senjatanya, memakai humor cerdas tanpa hina dan caci.”

Mughni :
“Baik, Gus, kalau itu perintah Panjenengan.”

Gus Dur :
“Ini bukan perintah, ini memang sesuatu yang seharusnya kamu lakukan sebagai Da’I.”

Mughni :
“Laksanakan.”

Gus Dur :
“Kamu suka menulis?”

Mughni :
“Tidak, Gus, tulisan saya buruk sekali. Saya coba menulis puisi atau cerita pendek, tapi benar-benar buruk hasilnya.”

Gus Dur :
“Rupanya kamu belum pernah dilukai seorang wanita, makanya tulisan kamu tidak bagus.”

Mughni :
“Lha, Panjenengan tau darimana kalau saya belum pernah dilukai wanita?”

Gus Dur :
“Ya itu tadi, karya sastramu buruk sekali.”

Mughni :
“Hmmmmm..”

Gus Dur :
“Kamu pernah pesantren?”

Mughni :
“Pernah, Gus.”

Gus Dur :
“Dimana?”

Mughni :
“Di Al-Falah sama di Al-Musaddadiyah.”

Gus Dur :
“Rupanya kamu Santri Kyai Syahid sama Kyai Musaddad.”

Mughni :
“Iya.”

Gus Dur :
“Saya juga sering bersilaturahmi ke beliau-beliau itu. Mereka salah satu penjaga Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.”

Mughni :
“Ketika jadi Santri, saya nakal sekali. Saya merasa malu kepada beliau-beliau itu, Gus.”

Gus Dur :
“Saya beritahu kamu, kebaikan seorang Santri tidak dilihat ketika dia berada di Pondok, melainkan setelah dia menjadi alumni. Kamu tinggal buktikan hari ini, bahwa kamu adalah santri yang baik.”

Mughni :
“Terima kasih, Gus.”

Gus Dur :
“Dunia tanpa pesantren, bagi saya adalah siksa. Bersyukurlah karena kamu pernah menjadi bagian di dalamnya.”

Mughni :
“Iya, Gus.”

Gus Dur :
“Kamu mau tau rahasia hidup saya dalam memandang segala sesuatunya?”

Mughni :
“Tentu, Gus, saya ingin tau rahasia panjenengan.”

Gus Dur :
“Dalam memandang segala sesuatu, gunakanlah ‘mata’ Allah.”

Mughni :
“Waduh. Bagaimana contohnya?”

Gus Dur :
“Contohnya begini. Ketika saya didatangi banyak orang yang meminta perlindungan, apakah orang itu benar atau salah, saya terima semuanya dengan lapang dada. Karena apa? Saya selalu yakin, Allah lah yang menggerakan hati mereka untuk datang kepada saya. Jika saya tolak karena mereka bersalah, itu sama saja saya menolak kehendak Allah. Perlindungan saya kepada orang-orang yang disudutkan karena kesalahannya itu, bukanlah bentuk bahwa saya melindungi kesalahannya, tapi saya melindungi kemanusiaannya.”

Mughni :
“Duh..”

Gus Dur :
“Lebih jauhnya begini. Jika kamu membenci orang karena dia tidak bisa membaca al-Qur’an, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi al-Qur’an. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda Agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah.”

Mughni
“Ya Allah..”

Dicuplik dari tausiyah Guru Niam Muiz

Minggu, 10 September 2017

Bermadzhab pada Hawa Nafsunya

"Kenalilah Diri Sendiri"

Nabi Muhammad Saw meninggal SERIBU TAHUN LEBIH yg lalu. Dan kita semua tahu dengan bukti SEJARAH, bahwa yg paling TAHU & Mengenal Nabi Saw tentulah mereka2 yg pernah hidup jaman nya, khususnya yg pernah bertemu dan berkumpul dengan Nabi, karena mereka MELIHAT & MENDENGAR langsung dari nya, yang mereka di kenal dengan sebutan SHOHABAT NABI dan merekalah yg meneruskan Dakwah & ajaran Nabi Saw.

Kemudian yg paling tahu akan Para Shohabat tidak lain adalah Para Tabi'in DAN YANG paling tahu akan Tabi'in adalah Tabi'in Tabi'in dan akhirnya Muncullah Para Imam Mujtahid, Imam Muhaddits yg merupakan MURID-MURID nya, JADI BILA di jaman sekarang ada yg menyelisihi MEREKA, perlu di pertanyaan jalur ilmu & aqidah nya.

Perlu juga di INGAT juga, bahwa tidak semua orang yg hidup di jaman NABI itu semuanya SHOLIH dan Menerima Dakwah Nabi, seperti misalnya ; Dzul Huwaishiroh dari Bani Tamim, Musaillamah Al Kadzan dan pengikutnya, An Najd dan lain-lain, mereka semua sampai sekarangpun masih banyak BAHKAN bertambah banyak pengikutnya ....

>>> Pada hakikatnya orang yg tidak mau bermadzhab pada salah satu Madzhab Empat (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i & Imam Hanbali) juga bermadzhab pada yg lain atau bermadzhab pada hawa nafsunya sendiri dengan merumuskan Al-Quran & Al-Hadits sesuai kehendaknya, lebih percayakah kita pada kemampuan agama kita atau pada para Imam madzhab...???

ومن لم يقلد واحدا منهم وقال أنا اعمل بالكتاب والسنة مدعيا فهم الأحكام منهما فلا يسلم له بل هو مخطئ ضال مضل سيما في هذا الزمان الذى عم فيه الفسق وكثرت الدعوى الباطلة لأنه استظهر على أئمة الدين وهو دونهم في العلم والعمل والعدالة والاطلاع

"Dan barangsiapa yg tidak mengikuti salah satu dari mereka (Imam madzhab) dan berkata "saya beramal berdasarkan Al-Quran & Hadits", dan mengaku telah memahami hukum2 al-quran & hadits maka orang tersebut tidak dapat diterima, bahkan termasuk orang yg bersalah, sesat & menyesatkan terutama pada masa sekarang ini dimana kefasikan merajalela & banyak tersebar dakwah2 yg salah, karena ia ingin mengungguli para pemimpin agama padahal ia di bawah mereka dalam ilmu, amal, keadilan dan analisa".
(Ket : Kitab Tanwirul Qulub, hal : 74-75).

كل من الأئمة الأربعة على الصواب ويجب تقليد واحد منهم ومن قلد واحدا منهم خرج من عهدة التكليف وعلى المقلد أرجحية مذهبه أو مساواته ولايجوز تقليد غيرهم فى إفتاء أو قضاء. قال ابن حجر ولايجوز العمل بالضعيف بالمذهب ويمتنع التلفيق فى مسألة كأن قلد مالكا فى طهارة الكلب والشافعى فى مسح بعض الرأس

"Setiap imam yg EMPAT itu berjalan dijalan yg benar maka wajiblah bagi umat islam untuk mengikuti kpd salah satu diantara yg empat tadi sebab orang yg sudah mengikuti kpd salah satu imam yg empat tersebut maka ia telah terlepas dari tanggungan dalam keagamaan & orang yg mengikuti haruslah yakin (khusnudlon) bahwa madzhab yg ia ikuti itu benar & sama benarnya dengan yg lain (antara para imam madzhab) dalam arti kata lain TIDAK BOLEH ber-pindah2 madzhab.

Seperti apa yg dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami : "Tidak boleh seseorang yg menganut suatu madzhab berbuat talfiq (mencampur adukkan madzhab untuk mencari yg ringan2) misalnya mengikuti Imam Malik yg mensucikan (menghukumi suvi) anjing & juga mengikuti Imam Syafi'ie dalam membasuh sebagian kepala dalam berwudu''.
(Ket : Kitab I'anatuth  Tholibin juz 1)

'Wallohu A'lam Bis Showab"

Jumat, 01 September 2017

Kisah Perjuangan Awal Bukalapak by CEO Bukalapak, Achmad Zaky

*Kisah Perjuangan Awal Bukalapak*
by: Achmad Zaky

Sukses yang diraih pendiri sekaligus CEO Bukalapak, Achmad Zaky, tidak datang serta-merta. Setidaknya ada tiga hal yang telah mengubah hidupnya. Semua itu dipaparkan Zaky dalam kuliah umum di hadapan ribuan mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) beberapa waktu lalu.

"Saya ingin berbagi cerita mengenai 3 hal yang menurut saya penting buat adik-adik sekalian ketahui," ujarnya dalam acara itu. Inilah 3 faktor tersebut:

*1. Soal Keberuntungan (Luck)*
Saya berasal dari kampung di pinggir Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Saya bukanlah anak paling pintar di kampung tersebut. Orangtua saya juga bukan paling kaya, keduanya guru mengajar di SMP sekitar rumah. Tapi saya beruntung mereka memikirkan saya, mendidik saya, dan menabung agar saya bisa kuliah di universitas terbaik. Inilah keberuntungan pertama saya dalam hidup. Dan saya kira adik-adik semuanya yang sudah kuliah di salah satu universitas terbaik, sudah jauh lebih beruntung dari saya. Kita harus bersyukur karena ini. Manfaatkanlah keberuntungan ini dengan sebaik-baiknya.

Sebagai mahasiswa dari daerah, kuliah di ITB tidaklah mudah. Saya sempat tidak pede karena banyak mahasiswa ITB yang pintar-pintar. Tapi ternyata disinilah keberuntungan saya selanjutnya. Saya berteman dengan orang-orang yang jauh lebih pintar. Salah satu teman dekat saya adalah mahasiswa paling pintar di ITB. Dia tidak pernah mendapatkan nilai selain A selama kuliah di ITB 4 tahun. Bahkan untuk mata kuliah Agama dia mendapat A sementara Ketua Keluarga Mahasiswa Islam waktu itu mendapat B.

Satu minggu sebelum ujian biasanya saya datang ke kosan dia untuk belajar. Jadi menjelang hari H saya siap betul. Ketika H-1 teman saya banyak bertanya ke saya soal ujian, pasti bisa, wong saya sudah belajar dari mahagurunya. Dengan mengajari teman-teman, saya juga jadi lebih pintar. Mereka tidak tahu bahwa saya sebelumnya belajar dari Fajrin. Namanya Fajrin Rasyid, dia kini jadi salah satu pendiri dan CFO di Bukalapak.

Jadi agar beruntung, bertemanlah sebanyak-banyaknya dengan teman yang lebih cerdas & lebih pintar. Bidang apapun, tidak harus secara akademik.

Sebagai mahasiswa dari daerah, saya memiliki momok yang sangat besar: Bahasa Inggris. SD tempat saya sekolah di kampung tidak mengajarkan Bahasa Inggris sama sekali di saat teman-teman SMP saya semuanya mendapatkannya. Di SMP dan SMA, saya hampir tidak lulus hanya karena Bahasa Inggris. Les tidak membantu karena menjadikan saya malah takut dan minder.

Di test TOEFL se-ITB, saya menduduki peringkat 3 dari bawah. Inilah ketakutan saya selama kuliah di ITB, saya harus mengubur keinginan saya kuliah di luar negeri yang semuanya mensyaratkan TOEFL. IP sebagus apapun tidak akan bisa membantu jika TOEFL kurang bagus. Tapi Allah berkehendak lain, keberuntungan selanjutnya datang. Waktu itu ada beasiswa pertukaran pelajar ke Amerika yang hanya ditujukan untuk mahasiswa yang tidak bisa Bahasa Inggris.

Saya langsung mencari informasi terkait beasiswa tersebut. Saya datangi beberapa alumni yang pernah mendapatkannya untuk menganalisa bagaimana mendapatkan beasiswa tersebut. Rupanya kriteria utama beasiswa tersebut adalah "tidak bisa berbahasa Inggris"; sudah pasti saya mendapatkan nilai terbaik disini, hehehe...

Kriteria kedua adalah nilai akademik yang baik. Di poin ini saya juga tidak buruk berkat keberuntungan pertama tadi. Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa dan berangkat ke Amerika Serikat. Setibanya di Amerika, saya baru tahu "How are you", "I'm fine", "Thank you" dsb, itu padahal kuno banget. Saya mulai menyadari bahwa esensi belajar (bidang apapun) adalah melakukan alias Doing, bukan hanya di kelas-kelas atau berdasarkan textbook yang kadang saklek dan menakutkan.

Teman-teman di Amerika juga maklum jika saya sering salah ngomong. Dari sinilah saya mendapatkan banyak teman luar negeri hingga relasi-relasi luar negeri, yang kelak membantu membesarkan jaringan investor saya untuk membesarkan Bukalapak juga.

Pelajaran dari poin pertama ini adalah *keberuntungan datang saat kita siap!* Banyak kesempatan di depan mata menanti yang siap diambil. Kita harus siapkan diri untuk mengambil kesempatan-kesempatan yang datang di masa depan.

*2. Soal Kesenangan (Passion)*
Saya selalu senang hal baru. Hal baru memberikan pembelajaran baru dan wawasan baru. Kampus ITB saya manfaatkan juga untuk mengeksplor hal-hal baru. Saya bergabung dengan banyak organisasi sewaktu di ITB. Dari KM ITB saya belajar berpikir kritis (kadang sering demo). Dari himpunan saya belajar kekompakan. Dari Menwa saya belajar kedisiplinan dan ketahanan. Dari ARC saya belajar bagaimana ngoprek dan memecahkan suatu masalah.

Saya juga senang sekali mengikuti lomba-lomba di bidang software sehingga memiliki tabungan yang lumayan lah. Waktu-waktu di ITB sangat tidak saya sia-siakan. Saya terus mencari apa yang sebenarnya menjadi kesenangan saya yang abadi nanti. Kita tidak pernah tahu apa isi hati/jiwa kita sampai kita terus mencoba dan mengeksplorasinya.

Karena pertemanan yang luas di kampus, saya juga membuat sebuah unit bernama Techno Entrepreneurship Club. Kami berpikir, mahasiswa ITB harusnya membuka lapangan pekerjaan, bukan malah mendesak mahasiswa lain yang dulu sudah gagal masuk ITB, masa harus gagal lagi masuk dunia kerja gara-gara mahasiswa ITB, ha ha ha...

Di klub ini kami konkrit membuat warung mie ayam sebagai eksperimen. Semua menggunakan uang pribadi kita sendiri-sendiri, dan ternyata gagal. Di sinilah saya pertama kali gagal dan kehilangan uang besar (untuk ukuran waktu itu) untuk pertama kalinya. Sedih rasanya waktu itu. Tapi belakangan saya bersyukur, karena kegagalan inilah saya bisa lebih matang menyiapkan eksplorasi saya selanjutnya.

Suatu ketika, saya dikontak oleh sebuah stasiun televisi untuk membuat sebuah software quick count pemilu, mereka mendapatkan referensi dari teman saya. Walau saya belum pernah membuat software quick count, tapi saya yakin itu bisa dilakukan, toh semua ada di Internet. Tidak ada yang tidak mungkin dibuat, itu dogma jurusan saya Teknik Informatika, STEI.

Tanpa berpanjang-lebar saya mengiyakan bisa membuat software tersebut yang diberi deadline hanya 7 hari. Mereka bertanya berapa biayanya? Saya jawab "1.5 juta". Hitung-hitungan saya, uang tersebut cukup untuk 6 bulan hidup, toh cuma 7 hari pengerjaannya. Pasti untung... wong tidak ada biaya... cincai laaa (seperti iklan Bukalapak).

Pagi-siang-malam saya begadang mengerjakan software tersebut di kosan (Tubagus) dan akhirnya di hari H software tersebut lancar disiarkan di stasiun TV nasional. Itulah project komersial pertama saya yang dinikmati oleh puluhan bahkan ratusan juta orang di seluruh Indonesia. Ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, senang sekali rasanya waktu itu hasil karya tangan sendiri dinikmati banyak orang.

Namun belakangan saya baru tahu nilai proyeknya ratusan juta. Tapi saya tidak menyesal karena setelahnya saya yang masih kuliah tingkat 3 waktu itu, mendapatkan kepercayaan dari stasiun TV nasional untuk project selanjutnya, yang tentu nilainya kini berbeda dari sebelumnya. Saya naikkan 10x lipat dan mereka masih mau! Kesenangan inilah yang menjadi momen penting dan jatuh cintanya saya pada dunia software.

Kita tidak pernah tahu apa jadinya diri kita di masa depan. Hidup ini menurut saya seperti air. Ikuti saja kemana air mengalir, sambil mencoba hal-hal baru yang lewat dan terus ikuti kata hati kita (inner voice). Jika senang dan mau, coba! Jika tidak ya tidak perlu dicoba. Kita bisa menjadi terbaik karena kita senang dan mau di bidang itu. Carilah kesenanganmu (passion).

*3. Soal Tujuan Hidup (Purpose)*
Setelah lulus, saya sejenak pulang kampung. Saya mengamati banyak sekali tetangga saya di kampung yang memiliki usaha kecil, tapi pendapatannya masih sama dengan belasan tahun sebelumnya, padahal ada inflasi. lnilah yang menjadi inspirasi awal pembuatan software lanjutan ini, supaya bagaimana software tersebut bisa membuka kesempatan bagi usaha-usaha kecil seperti tetangga saya dan jutaan usaha kecil lainnya, untuk melebarkan sayap dan berkembang lebih besar lagi.

Perjalanan baru pun dimulai. Saya mencari nama dan domain. Dari ratusan nama yang saya daftar, terpilihlah Bukalapak. Selain harganya murah 90 ribu, nama ini menggambarkan misi software ini, bahwa siapapun bisa semudah menggelar tikar atau lapak dengan software. Siapapun bisa berbisnis dan menjadi besar lewat Internet.

Saya juga memutuskan mencari partner, karena misi besar ini tidak bisa saya bangun sendirian. Tidak banyak yang tertarik ketika saya utarakan konsep Bukalapak, tapi saya tidak menyerah. Saya akhirnya dipertemukan dengan teman yang sebenarnya sudah lama satu jurusan dan juga satu SMA, Xinuc, saat ini CTO di Bukalapak. Dia tidak aktif organisasi, tapi senangnya ngoprek komputer di kosan.

Ketika saya cerita ide Bukalapak, dia yang paling semangat. Rupanya dia selama ini di kosan terus karena terobsesi dengan mesin. Bagaimana menciptakan mesin yang bisa secara bersamaan digunakan oleh jutaan orang. "Ini menarik," kata dia. Kami diskusi siang-malam bagaimana memulai semua mimpi kami tersebut.

Kami kemudian mulai membangun Bukalapak selama dua bulan non-stop berdua di kamar kosan. Ya, dua laki-laki dalam satu kos. Tapi ini ga aneh-aneh lo ya, ha ha ha... Kita berdua ini sedang membuat software. Website kami live pada Januari 2010, dan tidak ada yang mengunjungi website kami. Ada sih 1-2 pengunjung tapi pas kita cek sistem, itu komputer kami sendiri, sedih dan marah rasanya, tapi lagi-lagi kita pantang padam. Kami selalu ingat Tujuan Besar kami.

Perjalanan baru dimulai. Saya mulai sisir lapak-lapak di pinggir jalan (offline) dan juga online untuk bergabung dengan Bukalapak. Banyak yang tidak tertarik dengan software kami. Tapi ada segelintir yang tertarik. Aktivitas ini kami ulang terus setiap hari hingga 1 tahun kami memiliki pasukan UKM hingga 10 ribu. Kami senang karena Tujuan kami perlahan-lahan mulai mewujud.

Tapi ada satu masalah besar: bisnis Internet saat itu memang belum matang, pasarnya juga masih kecil. Uang pribadi kami habis untuk menghidupi Bukalapak. Kami coba cari investor, tidak ada yang tertarik. Sementara orang tua dan mungkin calon mertua sudah mulai bertanya "Kerja di mana kamu?". Pertanyaan sakral ini menghantui kami terus, selain kenyataan bahwa kas kami sudah nol. Xinuc pun pernah memiliki ide bagaimana kalau kita sudahi saja. Tapi sekali lagi kami tidak menyerah, saya selalu ingatkan diri dan Xinuc juga pada Tujuan Akhir.

Saya sampaikan ke dia: "Lihatlah 10 ribu UKM itu, mereka hidup dari kita. Kalau ini ditutup, mereka hidup dari mana?" Selalu mengingat Tujuan Utama & Tujuan Akhir kita akan membuat kita jadi terus semangat. Tak diduga-duga, pertumbuhan kami lebih cepat setelah itu. Internet di tahun 2012 menjadi bisnis yang sudah mulai menarik dan terus berlanjut. Per hari ini kami memiliki 1,8 juta UKM dan juga memproses 1 Triliun-an transaksi setiap bulannya.

Pelajaran dari poin ketiga ini: carilah Tujuan Hidupmu. *Tujuan inilah yang menguatkan kita di masa-masa sulit.* Hidup hanya sekali, Tujuan ini pulalah yang memberikan makna dalam hidup kita.

Sukses selalu kawan-kawan, dan jangan pernah menyerah...